Fungsi Asuransi Kesehatan “Double Claim” bagi Peserta Asuransi

Fungsi Asuransi Kesehatan ‘Double Claim” bagi Peserta Asuransi

Pertengahan November lalu, saya membantu klien saya untuk mengajukan klaim rumah sakit ke Manulife, dengan membantu menyiapkan dokumen/kuitansi klaim rumah sakit yang sudah dikopi legalisir sampai submit ke perusahaan Manulife.

Mengapa hanya dokumen/kuitansi yang dikopi legalisir?
Karena dokumen/kuitansi asli harus disubmit ke perusahaan asuransi lain, yang merupakan fasilitas dari kantor, pada saat bersamaan.
Setelah melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan, 5 hari kemudian, ada informasi bahwa hasil analisa berkas klaim sudah ok dan proses pembayaran sebesar Rp16.257.700, sesuai dengan angka tertera di kuitansi.
Berarti 100% nilai klaim yang diajukan, sudah disetujui.
Selang 1minggu kemudian, dapat info juga bahwa perusahaan asuransi lain menyetujui pembayaran klami sebesar Rp 6.400.000, sesuai dengan limit yang diambil tertanggung.
Sehingga tertanggung menerima uang sebesar Rp 16.257.700 + 6.400.000 = Rp 22.657.700, dari nilai klaim yang diajukan sebesar Rp 16.257.700.

Apakah total uang yang diterima tertanggung melebihi nilai klaim yang diajukan?
Benar. Mengapa?
Karena tertanggung mempunyai hak “Double Claim” atas manfaat rumah sakit yang dibeli dari Manulife, walaupun hanya dengan mengajukan klaim dengan dokumentasi/kuitansi dikopi legalisir.
Sehingga walaupun perusahaan asuransi lain akan/sudah membayarkan sebagian ataupun seluruh jumlah klaim yang diajukan tertanggung, maka Manulife akan membayarkan nilai klaim yang diajukan sesuai dengan limit yang diambil, tanpa memperhatikan nilai yang akan/sudah disetujui oleh perusahaan lain.

Catatan :
Rumah sakit menetapkan biaya untuk legalisir dokumen dengan rate 25.000-100.000.
Periksa kembali dokumen/kuitansi yang sudah dilegalisir oleh rumah sakit, karena bisa saja ada kekurangan/ketinggalan di legalisir, sehingga bila kembali lagi untuk legalisir dokumen, ada biaya lagi dari rumah sakit

Sekian sharing hari ini.
#ayoberasuransi #jadiandalan

Bonie Corina, SFP | 628129409026

 

Orang Tua pun Bisa Berasuransi

Semakin meningkatnya pendidikan dan pengetahuan penduduk Indonesia, pikiran mereka semakin terbuka dan semakin sadar akan kebutuhan Asuransi. Bagi yang masih usia produktif, mudah sekali bagi mereka untuk membeli asuransi, karena selain masih muda dan produktif, resiko hidup mereka juga masih rendah, sehingga premi yang dibayarkan masih murah untuk benefit yang besar.

Lain halnya dengan orang tua, selain resiko hidup lebih tinggi, keadaan fisik atau kesehatan mereka juga sudah terganggu, sehingga banyak perusahaan asuransi lebih memilih menolak orang tua yang sudah mempunyai catatan histori kesehatan yang terganggu. Atau , perusahaan asuransi akan meminta orang tua tersebut untuk cek kesehatan berkali-kali untuk memberikan data bahwa orang tua tersebut layak dipertanggungkan. Dan tak jarang pula, sudah berkali-kali cek kesehatan, perusahaan asuransi tetap menolak.

Begitu pula, kejadian ini juga terjadi pada seseorang di usia produktif, tetapi mempunyai histori kesehatan yang buruk.

Kalau sudah ditolak perusahaan asuransi, pada akhirnya orang akan menyesal, mengapa tidak diasuransikan sejak dahulu.

Sebelum menyesal lebih jauh lagi, bisa memilih Mi Wealth Assurance (MiWA) dari Manulife yang dapat menanggung orang tua dan semua orang dengan Uang Pertanggungan Jiwa hingga Rp 5M tanpa cek kesehatan. Syarat utama adalah maksimal usia 70 tahun, maksimal Uang Pertanggungan Jiwa total hingga Rp 5M dan memenuhi kriteria Simple Underwriting dari Manulife.

Apakah mahal preminya ?

Sebagai contoh, untuk usia 62 tahun, Uang Pertanggungan Jiwa Rp 1M, calon klien cukup membayar premi sebesar Rp 50 Juta/tahun minimal 7 tahun.

Mengapa cukup lama membayar premi ?

Karena kami menganggap, saat Anda membayar premi, berarti Anda sedang menginvestasikan uang Anda, dan investasi selalu bersifat panjang, dan pastinya ada dana yang dimiliki oleh calon klien.

Menurut pengalaman saya, bukan hanya biaya sakit yang mahal, tetapi pada saat meninggal pun ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan.

Alangkah baiknya, selama kita sehat dan masih bisa produktif, kita tetap terus menginvestasikan uang kita di pos-pos yang bisa memberikan jaminan perlindungan untuk kita dan keluarga kita secara financial.

Apakah pemikiran ini bisa diterima ?

Bila belum , mari berdiskusi dengan saya tentang jaminan perlindungan diri Anda dan keluarga Anda, selama Anda masih produktif.

#ayoberubah #ayoberasuransi

Me :

Bonie Corina, SFP | WA : 08129409026

 

 

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi (Askes Double Claim)

ASURANSI ?

Saya tidak perlu.
Oh, saya sudah punya.
Tidak ada duit buat beli asuransi.
Asuransi mahal

Itu beberapa kalimat penolakan yang didengar oleh para petugas asuransi di lapangan, di mana yang biasa kita kenal Agen Asuransi.

Sulit bagi sebagian besar dari kita untuk menyisihkan pendapatan kita untuk proteksi diri kita sendiri, tetapi begitu mudahnya menyisihkan pendapatan kita untuk kesenangan sesaat kita.

Bulan April 2015, saya menawarkan asuransi kesehatan kepada orang yang saya kenal dekat, pada saat dia sambil menunggu jadwal USG di bulan Juni. Dengan membantu membuka pikirannya, bahwa mumpung belum ada histori laboratorium atau sakit di suatu Rumah Sakit, mending buruan beli, sehingga diharapkan dia bisa diterima di asuransi kesehatan tanpa ada pengecualain.

Waktu itu, dia hanya membanding-bandingkan dengan produk asuransi lain, dan bilang mahal. Akhirnya dia menggunakan uangnya untuk kebutuhan yang lain.
Dan setiap kali ditawarkan, hanya mencemooh, “Ahh…cape nih kalau dekat-dekat dengan orang asuransi.”

Sampai suatu ketika di bulan April 2016, terdengar kabar, bahwa dia harus dilakukan tindakan operasi di rumah sakit dengan biaya sebesar premi asuransi kesehatan yang pernah ditawarkan dahulu.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia meminta dihitungkan asuransi kesehatan yang dulu pernah ditawarkan, untuk dirinya dan suaminya.

Yang sangat disayangkan :

  • waktu sudah berlalu 1 tahun, dan premi asuransi kesehatan sudah naik seiring pertambahan usia masuk
  • dengan adanya histori atau pencatatan di rumah sakit bahwa pernah dilakukan tindakan oleh dokter, bisa dimungkinkan diberlakukan pengecualian untuk tindakan yang sudah pernah dilakukan (pre-existing)

Dua hal tersebut sudah merupakan kerugian bagi calon nasabah yang akan bergabung di asuransi kesehatan , bila ditunda-tunda terus, karena kita tidak pernah akan tahu kapan kita mengalami resiko.

Manulife masih menyediakan produk rider asuransi kesehatan “Healthsafe” , yang bersifat :

  • berlaku double claim dengan asuransi perusahaan lain,
  • tidak ada batasan tahunan,
  • cashless
  • bisa digunakan di berbagai negara dengan re-imburse
  • serta harga terjangkau.

double claim artinya adalah tertanggung bisa mengajukan klaim kesehatan di perusahaan asuransi A, walaupun klaimnya sudah ditanggung 100% oleh asuransi kesehatan dari perusahaan asuransi B yang dimiliki oleh tertanggung.

Lebih jelas tentang “Healthsafe” :

http://manulife-indonesia.com/produk/health-safe?language=id

Pastinya sesuai dengan kebutuhan Anda. Hubungi kami.

Bonie Corina | via WA : 08129409026

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Punya Asuransi Selain BPJS

JAKARTA – Demi membangun kualitas kesehatan masyarakat yang lebih baik, pemerintah terus menggencarkan program BPJS kesehatan. Bagi banyak pihak, hal tersebut dirasa cukup menguntungkan. Siapa yang tak gembira ketika sakit dan harus dirawat di rumah sakit dengan biaya besar dan kemudian ditanggung oleh pemerintah?

Namun, rupanya ada beberapa alasan yang mengharuskan kamu mempunyai asuransi selain BPJS. Mengapa demikian? Bukankah pemerintah sudah menjamin kesehatan dengan program BPJS? Well, tak perlu panjang lebar lagi, cukup simak lima alasan kenapa kamu harus punya asuransi selain BPJS:

Tidak berlaku di luar negeri

Alasan pertama, BPJS hanya melindungi kamu apabila berada di Indonesia. Kalau tiba-tiba mengalami sakit saat berlibur ke luar negeri, kamu tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut.

Bagi kamu yang berpergian ke luar negeri, asuransi swasta wajibkan kamu miliki. Sebab, banyak asuransi swasta memiliki kerja sama dengan beberapa rumah sakit di seluruh dunia.

Alur rumit karena metode berjenjang

Dalam BPJS ada metode berjenjang yang mengharuskan kamu untuk sedikit lebih bersabar saat mengurusnya. Alurnya seperti ini, pertama kamu harus ke faskes 1 dan setelah itu baru mendapatkan rujukan ke rumah sakit yang memang bersedia untuk kerja sama dengan BPJS.

Sebenarnya, peserta bisa langsung mendatangi rumah sakit. Namun terdapat prosedur tertentunya yang membuat peserta tidak bisa langsung dilayani oleh rumah sakit.

Tidak dilayani semua rumah sakit

Hal lain yang perlu kamu ketahui mengenai BPJS adalah tidak semua rumah sakit memiliki perjanjian kerjasama dengan BPJS. Sehingga kamu tidak boleh sembarang berobat ke rumah sakit. Pastikan kamu berobat ke rumah sakit yang telah bekerja sama, hal ini bisa diketahui lewat rujukan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat 1 seperti puskesmas.

Tak ada cover khusus

Dalam asuransi BPJS tidak ada cover khusus terhadap penyakit atau kelainan tertentu sehingga ini membuat kamu yang mengidap penyakit langka tidak dapat mengklaim biaya kesehatan.

Hal ini berbeda bila kamu menggunakan asuransi yang lain di mana ada beberapa cover untuk jenis penyakit tertentu. Sayaratnya, kamu bersedia untuk membayar premi ekstranya.

Antrian panjang, kuota kamar sering habis

Alasan terakhir kenapa kamu harus memiliki asuransi selain BPJS adalah anrtian yang panjang. Hal ini seringkali membuat para pasien atau yang mengantar pasien menjadi kurang nyaman karena loket pasien umum dan loket pendaftaran BPJS seringkali penuh.

Selain itu, banyaknya pasien BPJS di sebuah rumah sakit pun sering membuat kuota kamar yang disediakan kerap habis.

(wdi)

Sumber : www.okezone.com

Bonie Corina | via WA : 0812-9409026

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi (Warisan)

Setiap orang berpacu dengan waktu dan tenaga untuk mengelola uangnya untuk dapat melipatgandakan uangnya, baik dengan berinvestasi, usaha atau mempercayakan uangnya kepada seseorang atau lembaga tertentu, untuk bisa menjaga kelangsungan hidupnya di masa depan atau menciptakan warisan untuk keluarga tercintanya.

Kebanyakkan para pengusaha berpikir bahwa untuk dapat melipatgandakan uangnya, cukup dengan berbisnis. Tentu saja , kita harus menjalankan usaha untuk dapat melipatgandakan uang kita selama kita masih sehat dan kuat.
Tetapi bukankah alangkah baiknya, sebagian dari uangnya, setidaknya 10% dialokasikan ke asuransi.
Mengapa ?

Beberapa alasan yang harus dipikirkan oleh para pengusaha untuk mengalokasikan 10% uangnya ke asuransi adalah :
1. hanya dengan 10% dari uangnya atau keuntungan usahanya bisa membiayai biaya rumah sakit, biaya pendidikan anak, biaya penyakit kritis, biaya cacat tetap, warisan bila terjadi resiko meninggal
2. hanya dengan 10% dari uangnya atau keuntungan usahanya, para pengusaha bisa hidup tenang untuk kelangsungan kehidupannya dan kehidupan keluarga tercintanya, bila suatu kali terkena resiko cacat tetap.
3. hanya dengan 10% dari uangnya atau keuntungan usahanya , asuransi bisa mengembalikan berlipat-lipat ganda dari uangnya yang dapat digunakan sebagai warisan keluarga tercintanya, tanpa perlu bekerja susah payah.

Ilustrasi yang mendukung 3 alasan di atas adalah sebagai berikut :

penjualmie
Penjual Mie Ganteng                (sumber foto: www.rakyatku.com)

seorang pria berusia 35 tahun adalah seorang pengusaha penjual mie ayam di beberapa lokasi. Setiap pagi, dia bersama karyawan-karyawannya menyiapkan daging-daging ayam untuk mie. Saat sore, dia bersama karyawan-karyawannya mulai memasang tenda untuk berjualan mie. Dia berjualan sampai tengah malam, dan begitu seterusnya.
Pria ini membeli asuransi jiwa dengan Uang Pertanggungan (UP) Rp 1 Miliar dan UP kecelakaan Rp 1 Miliar dan membayar premi tiap tahun hanya sebesar Rp 6 Juta selama 20 tahun.
Bila terjadi resiko meninggal, keluarga yang menjadi ahli waris, akan menerima warisan sebesar Rp 1 Miliar, dan bila terjadi resiko meninggal kecelakaan, maka keluarga akan menerima warisan sebesar Rp 2 Miliar.
Bila terjadi resiko meninggal di usia 50 tahun, artinya asuransi jiwa sudah berjalan 15 tahun, walaupun pria itu baru saja membayar premi Rp 90 Juta (15 x Rp 6 Juta), tetapi sudah menghasilkan warisan untuk keluarganya sebesar Rp 1 Miliar.

Rp 1 Miliar adalah 11x dari premi yang dibayarkan.
Bila bisnis Anda juga dapat menghasilkan profit 11x dalam waktu 15 tahun, sangat baik sekali, tetapi alangkah baiknya bila sebagian hasil keuntungan usaha ini disisihkan ke asuransi, untuk memperoleh pelipatgandaan hasil usaha tanpa perlu Anda bersusah payah.

Asuransi itu cara cerdas berinvestasi.

Bonie Corina | via WA : 0812-9409026

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi (Kepemilikan Aset)

Kepemilikan Aset

Tidak sedikit orang berinvestasi di properti, baik dalam bentuk rumah, tanah, apartemen, dan lainnya. Dalam membeli properti, bisa dilakukan secara tunai, atau cicilan.
Saat mencicil properti, ada jangka waktu yang telah ditentukan bersama, misalnya 10 tahun.
Apakah dalam masa cicilan tersebut, ada jaminan bahwa kita pasti dalam keadaan baik-baik saja dan pasti mampu membayar?

Seorang wanita berumur 43 tahun, membeli rumah seharga Rp 500 Juta, dengan membayar Rp 200 Juta sebagai DP, dan sisanya sebesar Rp 300 Juta dicicil dalam 10 tahun.
Saat itu, wanita ini juga memutuskan untuk menabung di Manulife selama 10 tahun dengan produk Manulife Income Replacement, yaitu tunjangan pendapatan bulanan, yang akan didapatkan manfaatnya, bila terjadi resiko ketidakmampuan total akibat kecelakaan atau sakit.
Tunjangan pendapatan diatur supaya selama 24 bulan , tunjangan sebesar Rp 15 Juta per bulan didapatkan oleh wanita ini, dan wanita ini juga mendapat proteksi (uang pertanggungan) apabila terjadi resiko meninggal sebesar Rp 200 JUta.

Wanita ini cukup menabung di Manulife sebesar Rp 8 Juta per tahun, di samping membayar cicilan rumah.
Apabila pada tahun ke-4, wanita ini baru saja membayar cicilan rumah, dan terjadi kecelakaan, yang mengakibatkan ketidakmampuan total, apa yang akan dilakukan ?
Perusahaan belum tentu akan menanggung atau memberikan gaji kepada wanita ini terus menerus sampai 10 tahun, untuk membantunya melunasi cicilan.
Bagaimana bila tidak dapat melanjutkan cicilan rumah ?
Jalan paling singkat adalah menjualnya, bukan ?
Tetapi menjual rumah perlu membayar biaya notaris, pajak jual beli rumah,  biaya balik nama, dan biaya lainnya, di saat bersamaan, wanita ini juga membutuhkan biaya untuk berobat.
Apabila rumah itu berhasil dijual dalam keadaan wanita ini sedang dalam ketidakmampuan total, sama saja wanita ini kehilangan aset yang sudah dicicil susah payah selama 4 tahun.
Lalu, apa yang akan terjadi?

Di saat seperti itulah, wanita ini mengklaim kepada Manulife tentang ketidakmampuan total yang dialami ini, sehingga Manulife memberikan tunjangan pendapatannya sebesar Rp 15 Juta tiap bulan selama 24 bulan, sehingga rumah bisa dilunasi baik dalam 2 tahun (dipercepat) atau dalam masa sisa cicilan 6 tahun.

Dengan mempunyai tabungan di Manulife inilah wanita ini selain mendapatkan tunjangan pendapatan selama 24 bulan, aset rumah pun masih tetap dimiliki, hanya dengan menabung Rp 8 Juta per tahun atau sekitar Rp 660 ribu per bulan.

Apa yang terjadi, bila setelah 10 tahun menabung di Manulife, wanita ini dalam keadaan baik-baik saja?
Maka tabungan ini bisa diambil seluruhnya di tahun ke-10, sebesar Rp 82.560.000 (asumsi bunga 13.6% per tahun) atau tetap menabung, karena tunjangan pendapatan ini akan terus menjaga sampai wanita ini berumur 65 tahun.

Anda setuju bukan, bahwa menabung di Asuransi sama dengan berinvestasi ?
Dalam perencanaan keuangan ini, Anda tetap memegang kepemilikan aset Anda walau Anda dalam keadaan ketidakmampuan total (tidak produktif).

Bonie Corina | via hp : 0812-9409026 | via bbm : 528D8E3D

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi (Ketidakmampuan Total)

Manulife Income Replacement (disability)

Seorang pria yang berprofesi sebagai pilot, yang berusia 41 tahun, bernama Mr. A, mempunyai sebuah keluarga harmonis yang dikaruniai seorang anak laki-laki berumur 4 tahun.
Sebagai seorang pilot yang mempunyai jam terbang tinggi, dan tentunya mempunyai resiko yang tinggi pula dalam pekerjaannya, Mr. A merencanakan keuangannya untuk kelangsungan hidup keluarganya di masa depan, apabila Mr. A mengalami resiko dalam menjalankan pekerjaannya.

Mr. A memilih tabungan di Manulife yang bernama Manulife Value Protector Absolute dengan menambahkan Manulife Income Replacement (MIR), di mana setiap semester (6 bulan) , Mr. A hanya menabung di Manulife sejumlah Rp 8.2 Juta (sekitar Rp 1.35 Juta per bulan).
Apabila Mr. A tetap hidup sehat sampai 20 tahun kemudian (usia 61 tahun), maka ia mempunyai tabungan pensiun Rp 637 Juta, dan pada usia 70 tahun mempunyai tabungan Rp 2 M (asumsi pengembangan 14% per tahun dan tidak pernah diambil).
Tetapi, apabila Mr. A mengalami ketidakmampuan total akibat kecelakaan dalam menjalani pekerjaan atau dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada usia ke-63, maka Mr. A mendapatkan tunjangan dari Manulife selama 24 bulan sebesar Rp 20 Juta, kemudian Manulife akan melanjutkan tabungan Mr. A sampai Mr. A berusia 65 tahun.
Bila suatu hari, Mr. A mengalami ketidakmampuan total dan meninggal , maka ahli waris Mr. A tetap akan mendapatkan Rp 20 Juta/bulan sampai kontrak 24 bulan selesai, serta warisan sebesar Rp 500 Juta + nilai polis (bila ada).

Bila kita menghitung selama 20 tahun Mr. A menabung sebesar Rp 8.2 Juta/ 6 bulan, itu sama dengan Mr. A sudah menabung sebesar Rp 328 Juta, tetapi :
– bila terjadi resiko meninggal, Mr. A telah mewariskan aset sejumlah Rp 500 Juta + Rp 637 Juta (nilai polis di usia 61 asumsi pengembangan 14% per tahun dan tidak pernah diambil) total Rp 1.137 M
– bila terjadi resiko ketidakmampuan total di usia 61 tahun, Mr. A mendapatkan tunjangan sebesar Rp 20 Juta/bulan selama 24 bulan + tabungan per semester dibayarkan oleh Manulife hingga usia 65 tahun , total minimal Rp 480 Juta
– bila terjadi resiko ketidakmampuan total dan meninggal, maka Manulife akan tetap memberikan tunjangan sebesar Rp 20 Juta/bulan selama 24 bulan + warisan Rp 500 Juta + nilai polis (bila ada) – bila Mr. A tetap sehat di usia 61 tahun pun, ia tetap mempunyai tabungan senilai Rp 637 Juta (nilai polis di usia 61 asumsi pengembangan 14% per tahun dan tidak pernah diambil)

Dari menabung sebesar Rp 328 juta selama 20 tahun, maka Mr. A bisa mendapatkan pengembalian atau manfaat yang melebihi nilai tabungan yang sudah disetorkan, baik ia dalam keadaan sehat, atau dalam keadaan ketidakmampuan total, atau bahkan terjadi resiko meninggal.

Jika begitu, apakah Anda setuju bahwa “Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi” ?

Manfaat Manulife Income Replacement saat sehatManfaat Manulife Income Replacement saat DisabilityManfaat Saat Ketidakmampuan Total dan Meninggal

Definisi Ketidakmampuan Total :
ketidakmampuan yang disebabkan oleh penyakit/cedera tubuh yang secara keseluruahan mengahalangi Tertanggung untuk melakukan 3 dari 6 aktifitas kehidupan sehari-hari, dengan/tanpa penggunaan alat mekanik, alat khusus/bantuan dan adaptasi lainnya dalam menggunakan alat-alat tersebut untuk orang cacat yang dikonfirmasi oleh dokter ahli yang sesuai.
6 aktifitas kehidupan sehari-hari :
1. membersihkan tubuh
2. menggunakan toilet
3. makan
4. berpindah tempat
5. bergerak
6. berpakaian

Bonie Corina | via hp : 0812-9409026 | via bbm : 528D8E3D

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi

Setiap dari kita yang belum mengerti tentang kegunaan asuransi, selalu menganggap asuransi adalah :
1. beban pengeluaran dari pendapatan kita.
2. dana yang sewaktu-waktu bisa diambil
3. merugikan dari segi investasi

Tetapi bila kita telusuri, apakah benar asuransi itu beban pengeluaran dan asuransi itu merugikan?
Tahap paling awal sekali sebelum kita mau memilih dan menabung di asuransi, pahami dahulu bahwa tujuan untuk berasuransi adalah untuk proteksi diri tertanggung.
Apakah yang diproteksi oleh asuransi ?
1. Jiwa
2. aset
3. Income atau pendapatan

Bagaimana asuransi bisa memproteksi jiwa ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi aset ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi income ?

Sebagai proteksi jiwa, asuransi ini berfungsi memberikan uang pertanggungan di saat tertanggung mengalami resiko meninggal. Setiap resiko datang secara tiba-tiba, tanpa memberi petunjuk atau gejala-gejala. Seberapa banyak sekarang orang mengalami kecelakaan di jalan ataupun di rumah, yang tidak jarang pula menyebabkan ketidakmampuan total atau meninggal, dan yang sering terdengar belakangan ini adalah penderita kanker yang tiba-tiba dan meninggal dalam 1-2 bulan.

Minggu lalu, ayah dari teman saya meninggal karena kanker paru-paru, di mana hasil diagnosa diketahui bulan Mei 2015 lalu. Pertengahan Agustus mengalami pendarahan melalui , maaf, lubang dubur, sehingga harus transfusi darah, dan dilakukan tindakan ‘mengikat usus’, tetapi hanya bertahan 1 minggu, ayahnya meninggal, dan biaya di rumah sakit total Rp 200 Juta untuk 1 minggu di ICU.
Apakah Anda termasuk orang yang sudah siap dengan tabungan sebesar itu ?
Bersukur bila kita punya tabungan sebesar itu , dan kita masih bisa melanjutkan hidup kita dengan tidak berkurang suatu apapun.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi aset, untuk Anda seorang Ayah / Ibu sedang dalam program cicilan rumah, apakah yang akan dilakukan bila terjadi resiko meninggal atau hidup tapi dalam keadaan cacat karena kecelakaan? Apakah program cicilan rumah berhenti begitu saja, dan akhirnya keluarga Anda pindah ke kontrakan rumah yang lebih murah atau meminta-minta tumpangan tinggal dengan keluarga lain?
Dan lagi-lagi kita bersukur , bila masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan program cicilan rumah atau aset lainnya, dan hidup kita masih bisa lanjut seperti biasa.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi income atau pendapatan, bila Anda sedang dalam posisi sebagai seorang karyawan di suatu perusahaan yang menjadi tulang punggung keluarga , atau sedang menabung untuk merencanakan sesuatu, tetapi tiba-tiba terjadi resiko kecelakaan yang menyebabkan ketidakmampuan total atau cacat, apakah hal itu mengganggu kelangsungan hidup keluarga Anda atau rencana tabungan Anda?
Bersukur bila kita masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan kehidupan keluarga kita atau rencana tabungan kita.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Menabung di Asuransi sebenarnya sama dengan berinvestasi, dengan modal sekecil-kecilnya, kita mendapat benefit yang besar yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Mengapa dibilang berasuransi sama dengan berinvestasi.
Ada ilustrasi seorang wanita berusia 36 tahun yang menginginkan proteksi jiwa sebesar Rp 200 Juta dan proteksi penyakit kritis sebesar Rp 600 Juta sampai usia 99 tahun, dan diharuskan menabung di asuransi sebesar Rp 13 Juta per tahun, artinya dia cukup menabung sebesar Rp 1.1 Juta per bulan.
Bila wanita itu sudah menabung selama 10 tahun, artinya sudah sebesar Rp 130 Juta, tetapi terjadi resiko meninggal, maka ahli waris mendapatkan warisan/tabungan dari wanita itu sebesar Rp 200 Juta.
Atau bila terkena penyakit kritis, yang mengharuskan wanita ini berobat ke mana-mana dengan biaya yang cukup tinggi, maka wanita ini masih mempunyai tabungan Rp 600 Juta.
Bila wanita ini sudah menabung 20 tahun, yaitu sebesar Rp 260 Juta, dan tiba-tiba didiagnosa terkena kanker, maka secara otomatis, wanita ini sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.
Menabung Rp 260 Juta selama 20 tahun, dan sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.

Tetapi, bila sampai usia 99 tahun, wanita ini tidak meninggal atau sehat-sehat saja, dia tetap mendapatkan nilai polis dari tabungan asuransinya. Dan bersukur bila wanita ini tetap hidup sehat sampai usia 99 tahun.
Bukankah itu namanya berinvestasi ? Dan ingat, saat menabung di asuransi, yang kita jaminkan adalah diri kita , satu-satunya aset yang paling berharga. Lebih mahal dari mobil, lebih mahal dari rumah, lebih mahal dari apapun di dunia ini.
Apakah kita lebih mempertahankan barang-barang mahal di dunia ini dibandingkan diri kita yang paling mahal ?
Diri kita bisa bekerja untuk menghidupkan keluarga, bisa untuk membeli mobil, rumah dan aset lainnya, bahkan diri kita bisa berbagi untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan, tidakkah diri kita lebih berharga dari apapun di dunia ini.

Jadi, hargailah diri kita dari apapun di dunia ini, karena diri kita berharga dan mampu memberikan yang terbaik untuk diri kita dan orang lain.

Bonie Corina | via HP 0812-9409026 | via BB 528D8E3D

Mi ULTIMATE Healthcare – Asuransi KESEHATAN Murni Cashless Sesuai Tagihan (Kamar di luar negeri 3x)

MiULTIMATE HealthcareTabel Rawat Inap

Mengapa dibilang murni?
Karena MiULTIMATE Healthcare  yang merupakan produk terbaru dari MANULIFE Financial ini adalah asuransi kesehatan individu pertama yang bisa berdiri sendiri, tanpa harus membeli asuransi jiwa atau asuransi investasi, dan bisa digunakan sampai dengan umur 80 tahun dengan sistem Ascharge (sesuai tagihan).

Tertanggung cukup membawa kartu Cashless di rekanan Manulife dan mendapatkan manfaat-manfaat seperti di bawah ini :

1. berlaku di seluruh dunia, kecuali Amerika Serikat

2. Sistem Ascharge (klaim dibayarkan oleh Manulife sesuai tagihan kuitansi, selama dirawat inap)

3 . Mendapat hak kamar 3x untuk di di luar Indonesia & Malaysia

4. Mendapatkan manfaat kesehatan mulai dari Rp 1M per tahun plus manfaat tambahan untuk 5 penyakit kritis mulai Rp 1M

5. Memberikan manfaat perawatan kanker dan cuci darah, tanpa harus rawat inap.

6. Memberikan manfaat perawatan sebelum dan sesudah rawat inap 60 hari tanpa batasan

Manfaat MiULTIMATE Healthcare

Rekanan Manulife dapat dilihat di https://manulife-indonesia.com/layanan-pelanggan/rumah-sakit-klinik-rekanan

Yang lebih menarik lagi, bahwa MiULTIMATE Healthcare juga memiliki tambahan manfaat-manfaat :

  1. Rawat Jalan : pemeriksaan ke dokter tanpa tindakan, termasuk laboratorium
  2. Rawat Gigi : perawatan gigi
  3. Rawat Bersalin : perawatan bersalin bagi ibu yang akan melahirkan

Saat ini, klaim bisa dilakukan dengan cashless di 5 negara : Indonesia, Malaysia, Singapur, Thailand, Kamboja.

Tabel Rawat Jalan , Gigi, Bersalin

 

Dapatkan semua manfaat dari MiULTIMATE Healthcare ini segera!

Bonie Corina | WA : 0812-9409026

Walau Cacat Total, Tetap Berpenghasilan

Bagaimana Cara Memenuhi Biaya Hidup

Kalau bicara tentang kehidupan, tidak terlepas dari adanya resiko yang mungkin terjadi di sekeliling kita.

Resiko bisa kecil, bisa juga besar.
Resiko bisa kita hindari, bisa juga tidak.

Sesiap apakah Anda menyiapkan diri Anda dari kemungkinan resiko yang terjadi di dalam diri Anda?

Persiapan apa yang Anda lakukan untuk menghadapi kemungkinan resiko yang terjadi?

Bila resiko yang Anda alami menyebabkan Anda tidak berkemampuan untuk berpenghasilan, apakah solusi yang telah Anda siapkan ?

Begitu banyak pertanyaan tentang resiko yang mungkin terbersit di pikiran Anda.
Tetapi yang pasti, pada umumnya Anda pasti akan memberikan hal yang terbaik bagi orang-orang yang Anda cintai.
Anda dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga , bila Anda TETAP bekerja!
Namun, jika terjadi RISIKO meninggal dini atau CACAT Tetap Total bagi Anda sebagai pencari nafkah utama, Apakah Anda dapat memberikan yang terbaik untuk masa depan keluarga?

MANULIFE INCOME REPLACEMENT adalah Program Pertanggungan Tambahan yang memberikan pembayaran manfaat bulanan selama periode yang dipilih oleh Pemegang Polis apabila Tertanggung Meninggal atau menderita Ketidakmampuan Total Tetap, yang dapat diperbaharui setiap ulang tahun Polis hingga Tertanggung mencapai usia 65 tahun.

Manulife Income Replacement

Sekarang, mulai persiapkan proteksi untuk Anda dan orang-orang yang Anda cintai.

Manulife – For Your Future
Bonie Corina | 08129409026 | BBM : 21C26DF3