Hampir sebagian besar orang mengatakan “Asuransi itu Mahal”.
Tetapi, semuanya hanya bisa bilang : “katanya…..”.
Kamu tahu biaya pengobatan rumah sakit sekarang pun dahsyat.
Di bulan Juli-Agustus 2020, biaya pengobatan klien-klien aku :
– Batu kencing Rp 51 Juta
– Faktur jari anak Rp 66 Juta
– Covid-19 Rp 70 Juta
– Multimiom dan bakteri di pencernaan Rp 120 Juta.
Kamu tahu berapa range premi yang mereka bayarkan? Hanya 6-12 Juta/tahun tergantung usia dan jenis kelamin.
Premi Asuransi itu hanya 10% dari Pendapatan Anda, jadi Asuransi itu tidak pernah mahal.
Pastinya biaya pengobatan jauh lebih mahal daripada premi Asuransi yang Anda bayar.
Sharing dari James Gee : Wellness Body, Mind and Wallet”. 1. Konsep “Gembok sepeda“, untuk menjaga “value” sebuah sepeda yang dibeli HANYA sebuah gembok kecil/ rantai gembok yang bervalue kecil untuk “menjaga sebuah sepeda” agar tidak kecolongan.
Anda siap aset-aset yang dikumpulkan bertahun-tahun hilang begitu aja atau dirampas oleh “Risiko hidup yang penuh ketidakpastian” seperti biaya berobat di Rumah Sakit atau sakit kritis ?
2. “Brankas” untuk menjaga uang/emas kita di bank atau rumah. Brankas pastinya tidak murah, tetapi dibutuhkan untuk “double protect” uang, walaupun bank atau rumah sudah terkunci atau dijaga dengan baik. Karena maling selalu mendapatkan berbagai cara untuk mencuri.
Walau kita sudah teliti alokasikan pos KEWAJIBAN pengeluaran, saving account , emergency fund, tentu masih ada POS Tak Terduga yang dapat mengganggu rencana keuangan kita di masa depan.
Contoh : “Target Pensiun” Rp 5M di usia 55 tahun, maka menabung Rp 40 Juta per bulan selama 5 tahun saja. Ternyata di tahun ke-4, kita butuh dana Rp 1M untuk berobat. Apakah kita bisa menawar saat uang Rp 1M dibutuhkan untuk berobat?
Pastinya semaksimal mungkin kita mengeluarkan semua uang/ aset hingga terkumpul Rp 1M.
Apakah goal yang sudah kita setting bisa tercapai?
Ketika “gembok” atau “brankas” tidak kita siapkan, pastinya dalam perjalanan persiapan masa tua kita atau bahkan untuk anak kita akan terganggu.
“Gembok” atau “brankas” menjaga aset kita, juga membantu kita mencapai goal keuangan kita.
3. Sahabatnya Tung Desem Waringin (TDW) pernah dirawat di Rumah Sakit selama 2 minggu karena Covid 19.
Karena beliau kaya raya, pastinya minta suntikan obat terbaik dan tidak murah pastinya kepada tim Dokter di RS supaya Speed Recovery dan bisa kembali beraktivitas.
Namun tidak berlaku untuk yang penghasilannya biasa-biasa saja atau belum berasuransi. Baru 3 hari dirawat saja sudah mau pulang, karena ‘kaget’ lihat biaya. Malah tambah pusing, mikirin biaya , karena akan menyerang kantong dan aset.
Biaya berobat TDW selama 14 hari adalah Rp 500 Juta, dan dia kabari Pak James dengan tawa lepas “Eh, tau ga Bro, Rp 500 Juta itu yang bayarin ASURANSI, makanya gue minta semua obat dan suntikan terbaik.”
Biaya klaim pengobatan Covid 19
“Gembok” atau “brankas” itu adalah PENGGANTIAN biaya rawat inap di rumah sakit baik di Indonesia ataupun diluar Indonesia dengan sistem sesuai Tagihan kuitansi (onbill) dengan one single bed. Total limit Tahunan mulai Rp 5 Miliar, premi mulai Rp 8 Jutaan per tahun (tergantung usia dan jenis kelamin).
1 minggu belakangan ini, akhirnya beberapa anggota keluarga saya rela membayar asuransi untuk mendapatkan “Peace of Mind”. Padahal dulunya sulit sekali ditawarkan.
Minggu malam, saya dihubungi sepupu mengalami pilek parah, muka pucat dan badan kesemutan, yang harus dibawa ke RS terdekat. Padahal hari Sabtu baru saja terima hasil swab negatif. Sampai pk 1 pagi (Senin) hasil swab kedua adalah positif. Dan langsung rawat inap “cashless”.
Esoknya tante dan istri sepupu yang hamil tua, lakukan swab. Suami tante (Om) dan kakak sepupu lakukan rapid test. Hasil rapid Om dan kakak sepupu adalah negatif.
Rabu sore, hasil swab tante dan istri sepupu positif dan langsung dirawat dengan asuransi “cashless”. Mengingat mereka berdua beresiko tinggi.
Di hari itu juga, Om dan kakak sepupu lakukan swab.
Hasil swab Om adalah positif.
Kakak sepupu galau, karena melihat biaya dari ke-3 anggota keluarganya selama total 3 hari, cukup wow. Dan Om tidak mempunyai asuransi dikarenakan riwayat diabetes.
“Peace of Mind” awalnya tidak bisa diukur. Tetapi dalam keadaan seperti ini, ternyata bisa diukur dengan sejumlah premi dibayar untuk mendapatkan sejumlah manfaat saat resiko datang tiba-tiba.
Ingat cerita saya 2 minggu lalu tentang klien aku si B yang harus dirawat inap 3 malam di rumah sakit? Dengan diagnosa adalah multimiom dan bakteri di lambung.
Setelah rawat inap, dengan total biaya Rp 31Juta, si B harus kontrol darah lagi 2 kali karena Hemoglobin (Hb) turun dengan total biaya Rp 4 Juta
Belum habis bulan Juli ini berjalan, B harus dirawat inap lagi karena Hb nya drop , menyebabkan dia “keleyengan”, lemas dan diare. Dokter mengharuskan lakukan endoskopi, untuk mengetahui penyebab Hb rendah. Dan hasilnya ada peradangan di lambung dan usus, serta miom itu juga menyebabkan pendarahan.
Pastinya total biaya pengobatan nantinya tidak sedikit.
Apakah B mengetahui dia akan mengalami hal seperti ini?
Tetapi yang pasti B mengetahui bagaimana dia harus menyisihkan sebagian penghasilannya jauh-jauh hari untuk resiko hidup yang dia tidak tahu kapan akan datang.
Saat mulai menyisihkan 10 juta-an per tahun di 2 tahun yang lalu, ia sudah berusia 35 tahun.
Akhirnya di saat B sakit, selain mendapatkan perawatan VIP, juga mendapatkan “Peace of Mind”, tanpa kuatir biaya.
Minggu lalu klien A infokan bahwa beliau didiagnosa GERD dan total biaya pengobatan sebesar Rp 8 juta di luar terapi antibiotik. Si A kalut.
Lalu B melaporkan bahwa selama 1 minggu, panas badan turun naik dan perut sakit, padahal sudah ke dokter klinik. Kusarankan ke RS terdekat untuk pengecekan intensif. Besok ke UGD, setelah di USG dan cek darah ditemukan multimiom dan bakteri. Setelah rawat inap 3 hari di RS swasta tersebut, total biaya Rp 31 Juta di kamar VIP. Si B bahagia.
Lalu si C melaporkan, maaf, kencing berdarah, setelah 3 hari berobat, dan C harus kembali ke dokter karena keadaan sakit yang tidak tahan. Alhasil si C harus dilakukan tindakan laser untuk batu di saluran kencing dan di rawat 1 malam, biayanya Rp 51 Juta. Si C bahagia.
Mengapa hanya A yang kalut, walau biaya B dan C jauh lebih besar ? Karena hanya A belum memiliki ‘Greencard’ sakti. A selalu menunda atau menghindar saat diingatkan tentang pentingnya berasuransi. B dan C mempunyai ‘Greencard’ Manulife, mendapat pelayanan VIP dan tanpa pusing pikirkan biaya. Berapa income yang disisihkan oleh B dan C? Hanya 7-8juta per tahun.
Menyisihkan 10% dari income kita untuk mendapatkan KENYAMAN saat terjadi resiko, adalalh salah satu Perencana Keuangan.
Berdasarkan pengalaman mamaku waktu aku dan adikku mau kuliah mama dan papa selalu pusing mencari biaya sampai mama bilang, libur kita nggak ke mana-mana karena uangnya utk biaya masuk kuliah…Aku nggak mau hal itu terjadi di keluarga kecilku, untuk itu kedua anakku sudah aku siapkan dengan Program Pendidikam studylink dan Manulife Education Protector. Semoga semua lancar (Fina-Karyawati)
Saya membeli Asuransi karena saya tidak mau dibebankan oleh biaya rumah sakit yang kian hari kian mahal. Di samping itu, karena saya sebagai tulang punggung keluarga, saat sakit , Saya juga tidak mau menyusahkan keluarga Saya. (Melisa-Manajer)
Saya Seorang guru, saya belum pernah tahu apa Manfaat Assuransi kalau saya beli untuk keluarga ,tapi Akhirnya sy menemui seorang Agen Asuransi dan diterangkan manfaat yg saya dapat untuk saya Dan Keluarga . Akhirnya saya memutuskan untuk menyisih kan penghasilan saya Untuk membayar Assuransi yg saya pilih yaitu :Tabungan Untuk hari Tua dan di gabung kesehatan untuk keluarga juga . Alhamdulilah kedisiplinan saya membayar sampai sekarang, saya Masih di Proteksi dengan Asuransi Manulife.(,Ibu Rahmah-Guru)
Kunjungi booth Manulife di RS Hermina Jatinegara lt. 3, Jakarta 12-14 Sept 2019 Dapatkan Edukasi Asuransi dan Program menarik untuk Anda.
Saya ngak mungkin mengandalkan asuransi kantor, karena pasti ada keterbatasan usia untuk bekerja, saya ngak tau kapan resiko saya dan keluarga saya terjadi makanya saya beli asuransi.
Delapan tahun berlalu terjadi resiko yg ngak di inginkan terjadi, istri saya terkena resiko cancer payudara dan tdk bisa ditunggu lagi karena cancernya itu sudah membuat istri saya susah bernafas , ternyata cancernya itu menekan paru dan jantung nya.
Dengan rasa sedih asuransi itu terpakai juga untuk operasi pengangkatan cancer payudaranya dan proses penyembuhan nya, padahal berharap asuransi kesehatan itu tdk terpakai, karena kalo terpakai artinya resiko itu terjadi. Tapi semua tanpa disadari terselamatkan cash flow keuangan saya yg saat itu sedang membangun bisnis saya, sehingga semua teratasi dengan baik istri saya di nyatakan dokter bebas cancer. Setelah 8-9 bulan perawatan yg intensif ditanganin dokter ahlinya, dan biaya itu semua di cover asuransi Manulife dibantu oleh Agen saya yg sudah seperti saudara. – (Mr. Client-Karyawan)
Buat saya yang sudah beberapa kali mengurus keluarga yang sakit di RS, membuat saya menyadari betapa pentingnya memiliki Asuransi Kesehatan di zaman sekarang.
Memiliki Asuransi, artinya kita punya bantuan “amunisi” untuk kita “berperang” saat sakit dan harus masuk ke Rumah Sakit.
Memiliki Asuransi yang baik bisa membantu kita mengurangi beban pikiran atas biaya saat kita sakit, sehingga kita bisa fokus untuk lebih cepat sembuh. (Fonny-wiraswasta)
Dengan memiliki asuransi, kita jadi punya #peaceofmind / bisa lebih #fokus ke kerjaan. knowing that if something bad happens, minimal ada yg cover dari segi biaya. asalkan tidak lupa membayar premi 😀 – (Satria-CEO)
Kunjungi booth Manulife di RS Hermina Jatinegara lt. 3, Jakarta 12-14 Sept 2019 Dapatkan Edukasi Asuransi dan Program menarik untuk Anda. #missqueenasuransi