Asuransi Kesehatan vs Asuransi Penyakit Kritis

Ada yang sudah ngalamin bete tingkat tinggi sama Agen Asuransi?

Nah, saya bantu jelaskan ya Asuransi Kesehatan vs Asuransi Penyakit Kritis.

Asuransi Kesehatan itu menggantikan semua biaya pengobatan di Rumah Sakit/Klinik.

Asuransi Penyakit Kritis itu memberikan SANTUNAN TUNAI saat seseorang menderita sakit kritis, dengan tujuan menggantikan pendapatan kita selama sakit kritis dan biasanya juga akan adanya pengurangan pendapatan dari kantor, bila sudah sakit lebih dari beberapa bulan.

Santunan Tunai bisa digunakan untuk membayar biaya non medis, seperti biaya bulanan, biaya transportasi berobat, edukasi anak, biaya penjaga si sakit, dan sebagainya.

Berapa Santunan Tunai yang didapat?

Bila kita memilih Uang Pertanggungan (UP) Sakit Kritis sebesar Rp 1Miliar.
Saat sakit kritis Tahap Awal dapat 50% UP atau Rp 500 Juta.
Saat sakit Kritis Tahap Akhir dapat 100%UP atau Rp 1Miliar.

Biasanya ada Bonus-bonus tambahan seperti :
– Power Reset : memulihkan limit dari 50% menjadi 100%
– Bonus 25% UP untuk Angioplasty
dan sebagainya.

Saatnya merencanakan Keuangan Anda dengan langkah :
1. Medical Defense (pertahanan medis) : yang akan melunasi semua tagihan medis. Dilakukan oleh asuransi kesehatan
2. Financial Defense (pertahanan finansial): yang akan menjaga keuangan kita dari segala tagihan non medis, saat kita menderita sakit kritis.
Dilakukan oleh Asuransi Penyakit Kritis.

Jadi bila sudah mempunyai Asuransi Kesehatan, disarankan mempunyai Asuransi Penyakit Kritis untuk bisa memproteksi keuangan Anda dari tagihan medis, maupun non medis saat Anda sakit kritis dan tidak bisa bekerja.
.
.
Beli Asuransi Saat Sehat.

#asuransipenyakitkritis #criticalillness
#asuransikesehatan #healthinsurance
#perencanaankeuangan #financialplanner
#insuranceforexpart
#proteksipendapatan #incomeprotection
#medicalbills #medicaltreatment

Don’t Start From Zero

Setiap orang berlomba dengan waktu untuk mengumpulkan aset atau kehidupan yang sangat nyaman untuk mereka di masa tua nanti. Mengumpulkan uang lalu membeli aset-aset yang dianggap akan membuat mereka lebih kaya lagi.

Mereka sangat bahagia dan puas dengan property miliknya, saham, mobil baru, emas dan aset-aset lainnya.

Tetapi apa yang terjadi jika tiba-tiba pria ini mengalami kecelakaan atau sakit ?

Hal pertama yang dilakukan adalah, mengumpulkan semua uang kasnya untuk membayar biaya pengobatan.

Bagaimana bila uangnya tidak cukup ?

Maka akan menjual aset-aset yang paling likuid atau menggadaikan aset-aset mereka untuk mendapatkan uang lebih banyak.

Pada akhirnya, pria ini menyadari bahwa ia telah kehilangan banyak asetnya yang sudah diperoleh sejak bertahun-tahun lalu.

Pria ini lupa bahwa dalam piramida keuangan, sangat penting untuk memposting uangnya untuk hal-hal yang tidak bisa dikontrol, seperti sakit, kecelakaan dan disability, serta meninggal dini.

Selanjutnya uang diposting ke kebutuhan prioritasnya, seperti Rumah, Tabungan Pendidikan dan Tabungan Pensiun.

Yang terakhir adalah untuk Investasi, dengan tujuan meningkatkan kekayaannya.

Apakah ada yang tahu, kapan kita akan mengalami resiko ?

Apakah Anda bisa memilih, resiko yang anda inginkan ?

Pada saat resiko datang, Anda lebih suka membayar sendiri biaya pengobatannya atau perusahaan asuransi yang membayar ?

Sebenarnya, hanya membutuhkan 10% dari Pendapatan kita untuk membayar premi.

Formula sederhana untuk mengetahui besaran manfaat yang dimiliki adalah :

Uang Pertanggungan Jiwa = 10x pendapatan tahunan, misalnya pendapatan tahunan kita adalah Rp 500 Juta, maka uang pertanggungan jiwa = Rp 5M

Asuransi Penyakit Kritis = 5 x pendapatan tahunan

Tabungan Pendidikan / Pensiun = 20* dari Pendapatan


Haruslah dimulai dari sekarang.

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi

Setiap dari kita yang belum mengerti tentang kegunaan asuransi, selalu menganggap asuransi adalah :
1. beban pengeluaran dari pendapatan kita.
2. dana yang sewaktu-waktu bisa diambil
3. merugikan dari segi investasi

Tetapi bila kita telusuri, apakah benar asuransi itu beban pengeluaran dan asuransi itu merugikan?
Tahap paling awal sekali sebelum kita mau memilih dan menabung di asuransi, pahami dahulu bahwa tujuan untuk berasuransi adalah untuk proteksi diri tertanggung.
Apakah yang diproteksi oleh asuransi ?
1. Jiwa
2. aset
3. Income atau pendapatan

Bagaimana asuransi bisa memproteksi jiwa ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi aset ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi income ?

Sebagai proteksi jiwa, asuransi ini berfungsi memberikan uang pertanggungan di saat tertanggung mengalami resiko meninggal. Setiap resiko datang secara tiba-tiba, tanpa memberi petunjuk atau gejala-gejala. Seberapa banyak sekarang orang mengalami kecelakaan di jalan ataupun di rumah, yang tidak jarang pula menyebabkan ketidakmampuan total atau meninggal, dan yang sering terdengar belakangan ini adalah penderita kanker yang tiba-tiba dan meninggal dalam 1-2 bulan.

Minggu lalu, ayah dari teman saya meninggal karena kanker paru-paru, di mana hasil diagnosa diketahui bulan Mei 2015 lalu. Pertengahan Agustus mengalami pendarahan melalui , maaf, lubang dubur, sehingga harus transfusi darah, dan dilakukan tindakan ‘mengikat usus’, tetapi hanya bertahan 1 minggu, ayahnya meninggal, dan biaya di rumah sakit total Rp 200 Juta untuk 1 minggu di ICU.
Apakah Anda termasuk orang yang sudah siap dengan tabungan sebesar itu ?
Bersukur bila kita punya tabungan sebesar itu , dan kita masih bisa melanjutkan hidup kita dengan tidak berkurang suatu apapun.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi aset, untuk Anda seorang Ayah / Ibu sedang dalam program cicilan rumah, apakah yang akan dilakukan bila terjadi resiko meninggal atau hidup tapi dalam keadaan cacat karena kecelakaan? Apakah program cicilan rumah berhenti begitu saja, dan akhirnya keluarga Anda pindah ke kontrakan rumah yang lebih murah atau meminta-minta tumpangan tinggal dengan keluarga lain?
Dan lagi-lagi kita bersukur , bila masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan program cicilan rumah atau aset lainnya, dan hidup kita masih bisa lanjut seperti biasa.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi income atau pendapatan, bila Anda sedang dalam posisi sebagai seorang karyawan di suatu perusahaan yang menjadi tulang punggung keluarga , atau sedang menabung untuk merencanakan sesuatu, tetapi tiba-tiba terjadi resiko kecelakaan yang menyebabkan ketidakmampuan total atau cacat, apakah hal itu mengganggu kelangsungan hidup keluarga Anda atau rencana tabungan Anda?
Bersukur bila kita masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan kehidupan keluarga kita atau rencana tabungan kita.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Menabung di Asuransi sebenarnya sama dengan berinvestasi, dengan modal sekecil-kecilnya, kita mendapat benefit yang besar yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Mengapa dibilang berasuransi sama dengan berinvestasi.
Ada ilustrasi seorang wanita berusia 36 tahun yang menginginkan proteksi jiwa sebesar Rp 200 Juta dan proteksi penyakit kritis sebesar Rp 600 Juta sampai usia 99 tahun, dan diharuskan menabung di asuransi sebesar Rp 13 Juta per tahun, artinya dia cukup menabung sebesar Rp 1.1 Juta per bulan.
Bila wanita itu sudah menabung selama 10 tahun, artinya sudah sebesar Rp 130 Juta, tetapi terjadi resiko meninggal, maka ahli waris mendapatkan warisan/tabungan dari wanita itu sebesar Rp 200 Juta.
Atau bila terkena penyakit kritis, yang mengharuskan wanita ini berobat ke mana-mana dengan biaya yang cukup tinggi, maka wanita ini masih mempunyai tabungan Rp 600 Juta.
Bila wanita ini sudah menabung 20 tahun, yaitu sebesar Rp 260 Juta, dan tiba-tiba didiagnosa terkena kanker, maka secara otomatis, wanita ini sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.
Menabung Rp 260 Juta selama 20 tahun, dan sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.

Tetapi, bila sampai usia 99 tahun, wanita ini tidak meninggal atau sehat-sehat saja, dia tetap mendapatkan nilai polis dari tabungan asuransinya. Dan bersukur bila wanita ini tetap hidup sehat sampai usia 99 tahun.
Bukankah itu namanya berinvestasi ? Dan ingat, saat menabung di asuransi, yang kita jaminkan adalah diri kita , satu-satunya aset yang paling berharga. Lebih mahal dari mobil, lebih mahal dari rumah, lebih mahal dari apapun di dunia ini.
Apakah kita lebih mempertahankan barang-barang mahal di dunia ini dibandingkan diri kita yang paling mahal ?
Diri kita bisa bekerja untuk menghidupkan keluarga, bisa untuk membeli mobil, rumah dan aset lainnya, bahkan diri kita bisa berbagi untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan, tidakkah diri kita lebih berharga dari apapun di dunia ini.

Jadi, hargailah diri kita dari apapun di dunia ini, karena diri kita berharga dan mampu memberikan yang terbaik untuk diri kita dan orang lain.

Bonie Corina | via HP 0812-9409026 | via BB 528D8E3D