Sudah Kanker, Masih Bisa Beli Asuransi Kesehatan?

Setiap orang saat memutuskan membeli asuransi kesehatan biasanya mengasumsikan dirinya sehat dan layak diterima oleh Perusahaan Asuransi.
Salah satu klien aku, sudah merasakan manfaat dan pelayanan dari Manulife saat tahun 2009 didiagnosis kanker payudara. Mulai santunan penyakit kritis Rp 140 Juta sampai dengan pengobatan di rumah sakit lainnya diterima oleh klien.
Tahun 2011, klien dinilai sudah “bersih” kankernya.

Tahun 2020, dia mengajukan Asuransi Kesehatan yang baru dengan sistem Sesuai Tagihan Kuitansi, Cashless dan manfaat tahunan 1.25 M+3.75 M.
Bagaimana hasil pengajuannya?

Biasanya survivor ca akan ditolak untuk Asuransi Kesehatan, karena “bersih” itu adalah saat sel kanker sedang “tiarap”, dan bisa muncul lagi di lokasi yang lain beberapa tahun kemudian.

Hasil pengajuannya adalah klien diterima dengan pengecualian HANYA ca payudara dan extra premi sekitar 37%.
Ini kata orang “hoki”, masih ada asuransi yang mau terima.

Tetapi beda dengan tanggapan klien, dia menolak “pagar-pagar”, karena beranggapan kanker sudah bersih sejak th 2011.
Malah seharusnya klien mengambil kesempatan ini dengan menambah manfaat asuransi lainnya.

Bagaimana menurut Anda ?

Beli Asuransi saat SEHAT.

#asuransikesehatanterbaik #miultimatehealthcare #perencanaankeuangan #penyakitkritis

Dompet vs Dompet Asuransi

Siapa yang selalu bawa Dompet saat keluar rumah ?

Walau sekarang sudah diganti e-Dompet atau e-Money, pastinya otomatis kita membawa “Dompet” kalau kita ke mana-mana.

Apa sih isi “Dompet” ?

Pastinya isinya akan dibutuhkan sekali kalau tiba-tiba ada hal mendadak, untuk belanja atau pengeluaran tak terduga.

Lalu berapa banyak dana yang disiapkan ?

Kalau bisa ya tak terhingga dananya, malah kadang kita suka bergantung pada kartu debet atau kartu kredit, kalau saat itu uang tunai kurang.

Kapan kita ngisi “Dompet” ?

Selama kita masih punya income (usia produktif), tetap terus mengisi “Dompet” kita sampai kita bilang cukup. Tapi pernah ada kata cukup ?

Sama fungsinya juga dengan “Dompet Asuransi” yang kadang suka terlupakan atau tidak diprioritaskan dalam perencanaan keuangan.

Apa sih isi “Dompet Asuransi?”

Untuk membayarkan kejadian mendadak berupa resiko sakit atau kecelakaan di luar dugaan kita.

Buat tabungan kita juga di saat usia non produktif atau saat kita sudah tidak mendapat ‘income’ lagi.

Gaya hidup bisa turun saat pensiun, tapi proteksi tidak bisa turun, karena inflasi.

Kapan mengisi “Dompet Asuransi?”

Tentunya sama, saat kita masih di usia produktif, ya sekitar 10% dari “Dompet”.

Tunda atau tidak sama sekali ?

#dontstartfromzero

#covid19 #workfromhome #bestinsurance

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi

Setiap dari kita yang belum mengerti tentang kegunaan asuransi, selalu menganggap asuransi adalah :
1. beban pengeluaran dari pendapatan kita.
2. dana yang sewaktu-waktu bisa diambil
3. merugikan dari segi investasi

Tetapi bila kita telusuri, apakah benar asuransi itu beban pengeluaran dan asuransi itu merugikan?
Tahap paling awal sekali sebelum kita mau memilih dan menabung di asuransi, pahami dahulu bahwa tujuan untuk berasuransi adalah untuk proteksi diri tertanggung.
Apakah yang diproteksi oleh asuransi ?
1. Jiwa
2. aset
3. Income atau pendapatan

Bagaimana asuransi bisa memproteksi jiwa ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi aset ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi income ?

Sebagai proteksi jiwa, asuransi ini berfungsi memberikan uang pertanggungan di saat tertanggung mengalami resiko meninggal. Setiap resiko datang secara tiba-tiba, tanpa memberi petunjuk atau gejala-gejala. Seberapa banyak sekarang orang mengalami kecelakaan di jalan ataupun di rumah, yang tidak jarang pula menyebabkan ketidakmampuan total atau meninggal, dan yang sering terdengar belakangan ini adalah penderita kanker yang tiba-tiba dan meninggal dalam 1-2 bulan.

Minggu lalu, ayah dari teman saya meninggal karena kanker paru-paru, di mana hasil diagnosa diketahui bulan Mei 2015 lalu. Pertengahan Agustus mengalami pendarahan melalui , maaf, lubang dubur, sehingga harus transfusi darah, dan dilakukan tindakan ‘mengikat usus’, tetapi hanya bertahan 1 minggu, ayahnya meninggal, dan biaya di rumah sakit total Rp 200 Juta untuk 1 minggu di ICU.
Apakah Anda termasuk orang yang sudah siap dengan tabungan sebesar itu ?
Bersukur bila kita punya tabungan sebesar itu , dan kita masih bisa melanjutkan hidup kita dengan tidak berkurang suatu apapun.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi aset, untuk Anda seorang Ayah / Ibu sedang dalam program cicilan rumah, apakah yang akan dilakukan bila terjadi resiko meninggal atau hidup tapi dalam keadaan cacat karena kecelakaan? Apakah program cicilan rumah berhenti begitu saja, dan akhirnya keluarga Anda pindah ke kontrakan rumah yang lebih murah atau meminta-minta tumpangan tinggal dengan keluarga lain?
Dan lagi-lagi kita bersukur , bila masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan program cicilan rumah atau aset lainnya, dan hidup kita masih bisa lanjut seperti biasa.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi income atau pendapatan, bila Anda sedang dalam posisi sebagai seorang karyawan di suatu perusahaan yang menjadi tulang punggung keluarga , atau sedang menabung untuk merencanakan sesuatu, tetapi tiba-tiba terjadi resiko kecelakaan yang menyebabkan ketidakmampuan total atau cacat, apakah hal itu mengganggu kelangsungan hidup keluarga Anda atau rencana tabungan Anda?
Bersukur bila kita masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan kehidupan keluarga kita atau rencana tabungan kita.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Menabung di Asuransi sebenarnya sama dengan berinvestasi, dengan modal sekecil-kecilnya, kita mendapat benefit yang besar yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Mengapa dibilang berasuransi sama dengan berinvestasi.
Ada ilustrasi seorang wanita berusia 36 tahun yang menginginkan proteksi jiwa sebesar Rp 200 Juta dan proteksi penyakit kritis sebesar Rp 600 Juta sampai usia 99 tahun, dan diharuskan menabung di asuransi sebesar Rp 13 Juta per tahun, artinya dia cukup menabung sebesar Rp 1.1 Juta per bulan.
Bila wanita itu sudah menabung selama 10 tahun, artinya sudah sebesar Rp 130 Juta, tetapi terjadi resiko meninggal, maka ahli waris mendapatkan warisan/tabungan dari wanita itu sebesar Rp 200 Juta.
Atau bila terkena penyakit kritis, yang mengharuskan wanita ini berobat ke mana-mana dengan biaya yang cukup tinggi, maka wanita ini masih mempunyai tabungan Rp 600 Juta.
Bila wanita ini sudah menabung 20 tahun, yaitu sebesar Rp 260 Juta, dan tiba-tiba didiagnosa terkena kanker, maka secara otomatis, wanita ini sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.
Menabung Rp 260 Juta selama 20 tahun, dan sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.

Tetapi, bila sampai usia 99 tahun, wanita ini tidak meninggal atau sehat-sehat saja, dia tetap mendapatkan nilai polis dari tabungan asuransinya. Dan bersukur bila wanita ini tetap hidup sehat sampai usia 99 tahun.
Bukankah itu namanya berinvestasi ? Dan ingat, saat menabung di asuransi, yang kita jaminkan adalah diri kita , satu-satunya aset yang paling berharga. Lebih mahal dari mobil, lebih mahal dari rumah, lebih mahal dari apapun di dunia ini.
Apakah kita lebih mempertahankan barang-barang mahal di dunia ini dibandingkan diri kita yang paling mahal ?
Diri kita bisa bekerja untuk menghidupkan keluarga, bisa untuk membeli mobil, rumah dan aset lainnya, bahkan diri kita bisa berbagi untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan, tidakkah diri kita lebih berharga dari apapun di dunia ini.

Jadi, hargailah diri kita dari apapun di dunia ini, karena diri kita berharga dan mampu memberikan yang terbaik untuk diri kita dan orang lain.

Bonie Corina | via HP 0812-9409026 | via BB 528D8E3D