Pelayanan Manulife untuk Nasabah Korporasi

Manulife berkomitmen penuh dalam memberikan pelayanan asuransi terbaik untuk nasabah-nasabah Korporasi dan Individu.

Ini adalah testimoni salah satu karyawan dari nasabah Korporasi Manulife yang mempunyai perencanaan keuangan keluarganya.

Manulife Indonesia mempunyai layanan untuk Korporasi, baik untuk layanan asuransi kesehatan, kecelakaan, dan Dana Pensiun, di mana DPLK Manulife Indonesia sebagai Perusahaan Joint Venture Pertama dengan Dana Kelolaan Tertinggi, yaitu Rp 15.07 T (per 31 Des 2017).

Menuju 2019, langkahlah bersama Manulife Indonesia untuk memberikan program Kesejahteraan Karyawan terbaik demi memajukan Kinerja Kerja Perusahaan.

Bonie Corina | 628129409026

 

Punya Dana 1M

IMG_20180821_181741_847

Kata orang , beli asuransi mahal, belum lagi klaimnya susah.

Saya bersukur deh selama di Manulife, klaim-klaim asuransi kesehatan klien-klien, sekaligus menjadi teman saya, dibayarkan TANPA PAKE RIBET. itu loh testimoni-testimoni mereka. Ga pake mahar loh.

Sambil posting ini, dapat kabar bahwa ada anak usia 20 tahun, menderita tumor otak dan harus dioperasi dengan biaya Rp 1M, mana asuransinya baru dicabut tahun lalu, dan usaha bapaknya sedang bangkrut.

Situ punya dana tunai Rp 1M ++ ???
Kalau belum punya, cus diambil asuransi kesehatan Manulife “Mi Ultimate Healthcare”. Bayarnya ga perlu miliaran, tapi manfaatnya bisa miliaran.
Googling deh, track recordnya bagus bangettttt…. Lagi ada promo merdeka nih hingga 10 September 2018.
Lihat Reputasi “Mi Ultimate Healthcare” =》zoom kotak hijau
Lihat Manfaat “Mi Ultimate Healthcare” =》zoom kotak tabel
Lihat Promo “Mi Ultimate Healthcare” =》 zoom kotak merah
Lihat Testimoni “Mi Ultimate Healthcare” =》 zoom kotak putih

#miultimatehealthcare #manulife #manulifeindonesia
#asuransikesehatan #asuransiterbaik #klaimasuransi #proteksi #penyakitkritis
#bestservice #bestsolution #bestinsurance
#payyourbills #worldwide
#jadiandalan

Pengalaman Menyedihkan dari Seorang Agen Asuransi

 

Banyak orang mengatakan profesi seorang Agen Asuransi adalah profesi yang sering ditolak atau dijauhi oleh teman-teman atau orang sekitarnya. Itu memang salah satu pengalaman menyedihkan. Tapi Saya mengalami hal yang lebih menyedihkan sekali.

 

Awal Desember 2015, klien saya pria berusia 46 tahun mengambil asuransi kesehatan rawat inap, tetapi kelas kamar 500, dengan alasan sudah punya dari asuransi lain. Padahal klien mempunyai bisnis perdagangan cukup besar.
Satu (1) bulan setelah polis terbit, klien terdeteksi mengidap penyakit diabetes, dan hanya melakukan rawat jalan untuk kontrol dokter.
Setelah polis berjalan 1 tahun, klien tidak lanjut bayar, padahal sudah diingatkan, akhirnya polis lapse.
Sampai akhirnya di bulan April 2017, klien mengatakan mau lanjutkan asuransi. Beruntungnya polis masih bisa dipulihkan otomatis dikarenakan belum ada histori klaim rawat inap, sehingga klien hanya membayar premi lanjutan, dan polis aktif kembali.
Bulan September 2017, klien menelpon karena tiba-tiba jari tangannya sakit, hanya karena menangkap bola. Klien pergi ke dokter dengan membawa formulir klaim kecelakaan, dan hasil diagnosa dokter adalah tulang dari jari-jari tangan kiri ada yang retak (dilihat dari hasil rontgen), dan biaya dokter dan pengobatan hampir Rp 3 juta.

Setelah dibantu untuk pengajuan klaim dan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, klien berniat upgrade kelas kamar kesehatannya.
Respon Saya saat itu adalah memberikan informasi kemungkinan terburuk bila di upgrade, mengingat klien sudah mengidap diabetes.
Saat yang sama pula, klien akhirnya juga mau membeli uang pertanggungan jiwa sebesar Rp 2M.

Mungkin karena klien sudah merasakan manfaat asuransi, makanya klien baru percaya sama asuransi. Karena dulunya hanya berpikir bahwa membeli asuransi, ‘yang penting ada’.

Setelah melewati masa pemeriksaan kesehatan akibat riwayat penyakitnya, maka keputusan dari perusahaan asuransi, adalah :
1. upgrade asuransi kesehatan rawat inap tidak dapat diupgrade, karena riwayat penyakit sudah ada. Tetapi klien masih bisa menggunakan manfaat kesehatan dengan kelas awal
2. asuransi jiwa UP 2M tidak dapat diterima , karena klien ternyata juga mengidap jantung koroner sejak Sept 2017, yang mengakibatkan risiko tinggi untuk klien tersebut.

Bagi seseorang dengan profesi agen asuransi seperti saya, pengalaman ini menyedihkan bukan karena kehilangan ‘case‘ atau komisi, tetapi adalah :
1. klien kehilangan kesempatan menyiapkan dana darurat untuk memproteksi kebutuhan keuangan keluarga dan bisnisnya. Terlebih lagi, ke-3 anaknya masih sekolah dan kuliah
2. kalau kita mengenal teman atau kenalan kita yang masih berusia muda dan produktif, mengidap penyakit yang beresiko tinggi, pastilah kita prihatin, apalagi orang tersebut kita kenal baik
3. seharusnya kita agak ‘memaksa’ dari awal begitu dia membeli polis asuransi kesehatan untuk membeli asuransi jiwa, apabila kita mau menolong keluarganya.

Kalau sudah ada histori ditolak untuk pengajuan asuransi dan mempunyai penyakit beresiko tinggi, akan sulit diterima di asuransi manapun.

Dari pengalaman ini, Saya menyadari benar, bahwa profesi ini bukanlah profesi main-main, jika sudah ‘nyemplung’, jangan ada kata keluar, tetapi malah harus terus menerus mendalami kebutuhan dan perencanaan keuangan terutama untuk persiapan dana darurat untuk orang-orang yang belum terproteksi.
Seseorang boleh dikatakan sangat hebat bila sudah mempunyai aset berlipat-lipat ganda, tetapi jika tidak mempunyai proteksi, maka aset itu akan habis dalam sekejap dan keluarga yang ditinggalkan akan menjadi beban orang lain, bila tidak direncanakan dengan benar.

Saya Bonie Corina, SFP Manulife Indonesia. Itu pengalaman saya, bagaimana pengalaman Anda ?

Salah Satu Tips Mencapai Tujuan Keuangan Anda

IMG_20170607_234826_857

Hal yang sering dicari oleh calon klien adalah “Premi termurah” tanpa memikirkan manfaat apa yang didapat.
Karena pada umumnya pemikiran mereka adalah “Yang penting ada.”
Apakah “Yang penting ada” ini memberikan jaminan perlindungan bagi calon klien tersebut?
Pastinya YA, selama calon klien tersebut hidup sehat dan kuat.

Coba kita melihat mundur ke belakang 10 tahun, apakah keadaan kesehatan kita sekarang sama dengan keadaan 10 tahun yang dulu ?
Saya sering dengar calon klien saat ditawarkan tambah manfaat rumah sakit dan penyakit kritis, jawabannya ‘Saya tidak mau sakit. Ga usahlah beli rumah sakit mahal-mahal”.
Tapi setelah obrol panjang lebar, akhirnya calon klien bertanya, “Apakah manfaatnya ini cover fisiotherapi? Karena saya sudah 2x fisiotherapi, mahal ui”.
Loh…loh…loh….. Jadi sadarkan ya, bahwa :
1. Pengobatan itu mahal
2. Keadaan kita sekarang berbeda dari keadaan kita di 10 tahun ke belakang
3. Penyakit datang tanpa permisi

Apakah saat kita 10 tahun yang lalu akan mengetahui keadaan kita di masa sekarang?
Yang biasanya takut kena kanker, ternyata kena gangguan tulang belakang.
6 tahun lalu, Saya membeli tambahan manfaat rawat jalan kanker untuk Papa saya seorang perokok berat. Ternyata tahun lalu beliau malah menderita penyakit TBC.
Apakah Saya tahu beliau akan menderita TBC saat mau membeli polis ?

RESIKO itu datang TANPA KEPASTIAN, baik waktu dan besarnya resiko.
PREMI Asuransi itu mempunyai angka dan waktu yang PASTI.

Bila ada yang PASTI PASTI saja, mengapa harus memilih yang TIDAK PASTI ?

#perencanaankeuangan #resikohidup
#financialplanning #financialfreedom #risk #insurance #criticalillness
#life #lifeisgood #lifeiseasy #lifestyle

Fungsi Asuransi Kesehatan “Double Claim” bagi Peserta Asuransi

Fungsi Asuransi Kesehatan ‘Double Claim” bagi Peserta Asuransi

Pertengahan November lalu, saya membantu klien saya untuk mengajukan klaim rumah sakit ke Manulife, dengan membantu menyiapkan dokumen/kuitansi klaim rumah sakit yang sudah dikopi legalisir sampai submit ke perusahaan Manulife.

Mengapa hanya dokumen/kuitansi yang dikopi legalisir?
Karena dokumen/kuitansi asli harus disubmit ke perusahaan asuransi lain, yang merupakan fasilitas dari kantor, pada saat bersamaan.
Setelah melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan, 5 hari kemudian, ada informasi bahwa hasil analisa berkas klaim sudah ok dan proses pembayaran sebesar Rp16.257.700, sesuai dengan angka tertera di kuitansi.
Berarti 100% nilai klaim yang diajukan, sudah disetujui.
Selang 1minggu kemudian, dapat info juga bahwa perusahaan asuransi lain menyetujui pembayaran klami sebesar Rp 6.400.000, sesuai dengan limit yang diambil tertanggung.
Sehingga tertanggung menerima uang sebesar Rp 16.257.700 + 6.400.000 = Rp 22.657.700, dari nilai klaim yang diajukan sebesar Rp 16.257.700.

Apakah total uang yang diterima tertanggung melebihi nilai klaim yang diajukan?
Benar. Mengapa?
Karena tertanggung mempunyai hak “Double Claim” atas manfaat rumah sakit yang dibeli dari Manulife, walaupun hanya dengan mengajukan klaim dengan dokumentasi/kuitansi dikopi legalisir.
Sehingga walaupun perusahaan asuransi lain akan/sudah membayarkan sebagian ataupun seluruh jumlah klaim yang diajukan tertanggung, maka Manulife akan membayarkan nilai klaim yang diajukan sesuai dengan limit yang diambil, tanpa memperhatikan nilai yang akan/sudah disetujui oleh perusahaan lain.

Catatan :
Rumah sakit menetapkan biaya untuk legalisir dokumen dengan rate 25.000-100.000.
Periksa kembali dokumen/kuitansi yang sudah dilegalisir oleh rumah sakit, karena bisa saja ada kekurangan/ketinggalan di legalisir, sehingga bila kembali lagi untuk legalisir dokumen, ada biaya lagi dari rumah sakit

Sekian sharing hari ini.
#ayoberasuransi #jadiandalan

Bonie Corina, SFP | 628129409026

 

5 Alasan Kenapa Kamu Harus Punya Asuransi Selain BPJS

JAKARTA – Demi membangun kualitas kesehatan masyarakat yang lebih baik, pemerintah terus menggencarkan program BPJS kesehatan. Bagi banyak pihak, hal tersebut dirasa cukup menguntungkan. Siapa yang tak gembira ketika sakit dan harus dirawat di rumah sakit dengan biaya besar dan kemudian ditanggung oleh pemerintah?

Namun, rupanya ada beberapa alasan yang mengharuskan kamu mempunyai asuransi selain BPJS. Mengapa demikian? Bukankah pemerintah sudah menjamin kesehatan dengan program BPJS? Well, tak perlu panjang lebar lagi, cukup simak lima alasan kenapa kamu harus punya asuransi selain BPJS:

Tidak berlaku di luar negeri

Alasan pertama, BPJS hanya melindungi kamu apabila berada di Indonesia. Kalau tiba-tiba mengalami sakit saat berlibur ke luar negeri, kamu tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut.

Bagi kamu yang berpergian ke luar negeri, asuransi swasta wajibkan kamu miliki. Sebab, banyak asuransi swasta memiliki kerja sama dengan beberapa rumah sakit di seluruh dunia.

Alur rumit karena metode berjenjang

Dalam BPJS ada metode berjenjang yang mengharuskan kamu untuk sedikit lebih bersabar saat mengurusnya. Alurnya seperti ini, pertama kamu harus ke faskes 1 dan setelah itu baru mendapatkan rujukan ke rumah sakit yang memang bersedia untuk kerja sama dengan BPJS.

Sebenarnya, peserta bisa langsung mendatangi rumah sakit. Namun terdapat prosedur tertentunya yang membuat peserta tidak bisa langsung dilayani oleh rumah sakit.

Tidak dilayani semua rumah sakit

Hal lain yang perlu kamu ketahui mengenai BPJS adalah tidak semua rumah sakit memiliki perjanjian kerjasama dengan BPJS. Sehingga kamu tidak boleh sembarang berobat ke rumah sakit. Pastikan kamu berobat ke rumah sakit yang telah bekerja sama, hal ini bisa diketahui lewat rujukan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat 1 seperti puskesmas.

Tak ada cover khusus

Dalam asuransi BPJS tidak ada cover khusus terhadap penyakit atau kelainan tertentu sehingga ini membuat kamu yang mengidap penyakit langka tidak dapat mengklaim biaya kesehatan.

Hal ini berbeda bila kamu menggunakan asuransi yang lain di mana ada beberapa cover untuk jenis penyakit tertentu. Sayaratnya, kamu bersedia untuk membayar premi ekstranya.

Antrian panjang, kuota kamar sering habis

Alasan terakhir kenapa kamu harus memiliki asuransi selain BPJS adalah anrtian yang panjang. Hal ini seringkali membuat para pasien atau yang mengantar pasien menjadi kurang nyaman karena loket pasien umum dan loket pendaftaran BPJS seringkali penuh.

Selain itu, banyaknya pasien BPJS di sebuah rumah sakit pun sering membuat kuota kamar yang disediakan kerap habis.

(wdi)

Sumber : www.okezone.com

Bonie Corina | via WA : 0812-9409026

Asuransi Kesehatan Murah atau Mahal ?

“Aduh asuransi lagi …asuransi lagi , saya sudah punya asuransi. Buat apa beli lagi ? Mahal pula.”

Begitu biasanya kalimat yang keluar dari mulut seseorang yang bila ditawarkan asuransi, apalagi asuransi kesehatan. Selalu berkata bahwa orang itu sudah punya, buat apa beli lagi ?

Tetapi , bila ditelusuri lebih lanjut, apakah orang itu mengerti, asuransi kesehatan yang ia beli atau miliki dahulu sudah sesuai dengan kebutuhan sekarang, atau dia sudah mengerti dengan apa yang dia miliki ?

Saya temukan beberapa teman atau rekan di mana mereka tidak mengerti dengan benar manfaat apa saja yang sudah mereka miliki di asuransi mereka dan beberapa dari mereka meminta saya membacakan polis mereka. Sungguh lucu menurut saya, karena bila seseorang ingin membeli barang, misalnya sebuah tas kerja atau tas olahraga, mereka akan mengecek benar tas tersebut, mulai dari resleting, bahan tas, kantong-kantongnya, dan bahkan sambil diperlihatkan di depan kaca. Tetapi saat membeli asuransi yang keuntungannya buat diri sendiri, mereka tidak mengecek atau memperhatikan benar. Padahal asuransi itu selain untuk keuntungan diri sendiri, juga untuk proteksi dirinya sampai di masa yang akan datang, bisa 10 tahun, 20 tahun, atau mungkin 50 tahun lagi. Entah apa yang membuat mereka tidak terlalu kritis terhadap asuransi yang dibeli ? Apa karena agen-nya tidak menjelaskan dengan benar, sehingga membuat mereka bingung, atau mereka malas untuk membaca polis atau mempelajari tentang asuransi.

Tak jarang mereka juga baru sadar kalau asuransi yang mereka miliki tidak cukup, pada saat kejadian sakit, dan bila saat itu terjadi, mereka mau beli lagi, dianggap sudah mahal atau bahkan ditolak oleh perusahaan asuransinya.

Sebenarnya membeli asuransi , sama seperti membeli suatu instrumen investasi, di mana asuransi untuk investasi jangka panjang, makin lama premi makin naik seiring bertambahnya umur orang tersebut, dan manfaat yang didapat melebihi premi / modal yang kita bayar. Sehingga, bila ada yang bilang, asuransi kesehatan itu mahal, lalu di mana mahalnya ?

Mari kita lihat sebuah contoh proposal di mana seorang pria berumur 32 tahun menerima proposal dengan tampilan sebagai berikut :

Image

Secara garis besar kita dapat melihat, bahwa pria itu dikenakan premi sebesar Rp 650.000/bulan selama 67 tahun, artinya sampai umur 99 tahun.

Uang Pertanggungan (UP) Dasar : Rp 200 Juta untuk pertanggungan selama 67 tahun, artinya pertanggungan jiwa tersebut sampai pria itu berumur 99 tahun, jadi jiwa orang tersebut ditanggung sampai dengan umur 99 tahun.

Premi untuk UP adalah Rp 375.000

Regular Top Up artinya penambahan secara rutin bulanan untuk menambah investasi sebesar Rp 275.000/bulan, dengan tujuan untuk menambah nilai polis/investasi.

Tambahan yang biasa disebut rider, yaitu ada 2 yang tercantum di proposal ini , yaitu :

1. Manulife Crisis Cover Ultimate untuk pertanggungan selama 67 tahun dengan UP sebesar Rp 60 Juta. Artinya bila pria itu mengalami 1 dari 56 penyakit kritis, maka UP Rp 60 Juta ini akan dikeluarkan tanpa mengurangi dari UP dasar Rp 200 Juta di atas.

2. Advanced Hospital Benefit Plus dengan kode PD1  yang artinya pria ini mendapat manfaat perawatan di rumah sakit dengan harga kamar Rp 500ribu/hari untuk 1 orang dan pertanggungan selama 48 tahun, artinya sampai pria itu berumur 80 tahun.

3. Waiver of Premium Base yaitu pembebasan premi bila terdapat mengalami ketidakmampuan pada diri pria itu baik tidak mampu mencari nafkah atau cacat selama 6 bulan berturut-turut, atau bila terkena 1 dari 56 penyakit kritis, dan rider ini menanggung selama 67 tahun juga, yaitu sampai pria itu berumur 99 tahun.

Perhatikan juga kolom ‘Biaya Bulanan’, artinya ini adalah biaya yang dipotong dari premi yang dibayarkan tiap bulan. Biasanya biaya ini naik seiring dengan penambahan usia tertanggung. Sehingga bila orang suka bertanya-tanya, mengapa nilai investasi saya kecil , tidak sesuai dengan premi yang saya bayar ? Nah jawabannya adalah karena ada biaya-biaya tersebut.
Tetapi dengan produk unit link, biasanya premi selalu flat sampai umur 99 tahun, itulah kelebihannya.
Sehingga saat umur bertambah, premi pun tidak bertambah, terutama untuk kesehatan.

Secara detailnya, benefit dari proposal ini adalah :

Image

Tabel di atas adalah tabel manfaat perawatan di rumah sakit, dengan batas per kejadian. Dari proposal ini tidak mempunyai batas tahunan.

Manfaat Biaya Kamar per hari (Maks. 60 hari) Rp 500.000, artinya manfaat kelas kamar Rp 500.000/hari, dengan maksimal 60 hari per kejadian. Jadi kalau pria itu sekarang menderita tipes selama 5 hari, berarti sisa hari tinggal 55 hari untuk tipes. Tetapi bila seminggu kemudian pria itu menderita demam berdarah, maka masih ada waktu 60 hari untuk demam berdarah. TETAPI, batasan 60 hari itu akan pulih kembali setelah 3 bulan. Jadi setelah 3 bulan untuk penyakit tipes, batasan hari itu kembali lagi ke 60 hari.

Manfaat Biaya Unit Perawatan Intensive (HCU/ICU/ICCU/PICU) per hari (Maks. 18 hari) Rp 750.000, artinya maks. biaya ICU adalah Rp 750.000/hari dengan maks. 18 hari per kejadian/penyakit, dengan ketentuan sama seperti manfaat Biaya Kamar.

Manfaat Biaya Umum Rumah Sakit Rp 16.000.000, yaitu maks. klaim untuk biaya umum Rumah sakit, seperti obat-obatan, cek lab, adalah Rp 16.000.000/kejadian.

Di sini juga ada manfaat Biaya Rawat Jalan Akibat Kecelakaan sebesar Rp 1.500.000, artinya bila pria ini mengalami kecelakaan dan ke dokter atau rumah sakit, maka pria ini bisa klaim dengan maksimal Rp 1.500.000.

Harap diperhatikan, bahwa untuk menggunakan manfaat rumah sakit, tertanggung dikenakan masa tunggu 2 bulan, artinya sejak polis diterbitkan sampai 60 hari ke depan, tertanggung belum bisa menggunakan atau klaim manfaat rumah sakit. Hal ini untuk menghindari penyalahgunaan polis.

Sekarang kita mengambil contoh periode 1 tahun :

Setelah 1 tahun, pria itu telah membayar premi sebesar = 1 x 12 bulan x Rp 650.000 = Rp 7.800.000

Di bulan ke-13, pria tersebut mengalami sakit tipes dan harus dirawat selama 5 hari di rumah sakit , maka rincian biaya yang mungkin terjadi di rumah sakit adalah :

Biaya Kamar = 5 x Rp 500.000 = Rp 2.500.000

Biaya Kunjungan Dokter = 5 x Rp 400.000 = Rp 2.000.000

Biaya Umum rumah Sakit (obat-obatan, cek darah, urine) = Rp 6.000.000

Maka total rincian biaya yang bisa diklaim ke asuransi sebesar Rp 10.500.000

Dapat dilihat bahwa dengan premi Rp 7.800.000, pria itu bisa klaim manfaat rumah sakit sebesar Rp 10.500.000.

Bila Anda menabung sendiri di rumah dengan tabungan sebesar premi Anda, apakah tabungan itu bisa membayar manfaat rumah sakit yang lebih besar dari tabungan Anda ?

Jangan pernah takut, bila dalam proposal berkata, harus membayar premi seumur hidup atau sampai umur 99 tahun, sebenarnya itu mengartikan bahwa, selama kita mampu, kita bayar premi itu, kita menabung terus sampai akhirnya kita sudah tidak mampu lagi. Lalu bagaimana kelanjutannya bila kita tidak mampu lagi ?

Bila tidak mampu secara finansial tetapi polis masih dibutuhkan, maka premi ditarik terus dari nilai polis atau investasi. Cukup sampai kapan ? Sampai nilai polis habis.

Bila tidak mampu secara finansial dan sudah tidak membutuhkan polis, lakukan penutupan polis, dan tarik nilai polis atau investasi yang tersedia. Tetapi, nilainya kecil, tidak sesuai dengan premi yang dibayar ? Ya tentu saja, karena premi yang telah kita bayar, sudah dibayar untuk perusahaan asuransi yang sudah menjaga kita. Sama seperti kita sudah membayar suster/pembantu yang sudah menjaga anak kita.

Sama seperti kita lihat, apakah saat kita menyimpan uang di bank dengan jumlah kecil, uang yang kita punya sesuai dengan jumlah uang yang kita masukkan ? Pasti sudah terpotong dengan biaya bulanan, biaya buku, dsb.

Jadi kalau ada yang berkata ‘Asuransi kesehatan itu mahal’ atau ‘Masuk asuransi itu rugi’ , Anda sudah bisa tersenyum-senyum mendengar perkataan itu, karena Anda sudah 1 langkah di depan dia dalam menilai sesuatu itu mahal atau tidak. Yang harus ditanam di dalam diri dan pikiran kita adalah bahwa diri kita jauh lebih mahal daripada premi yang dibayarkan, karena premi itu tujuannya juga untuk melindungi diri kita sendiri yang jauh lebih berharga.

Manulife – For Your Future
Bonie Corina | 08129409026 | BBM : 21C26DF3

Asuransi Kesehatan Seumur Hidup – ProHealth

Setiap manusia dalam kehidupannya pasti akan mengalami resiko sakit, tetapi kita tidak mengetahui kapan waktu tepatnya.
Bila saat seseorang mengalami resiko sakit, adalah baik bila orang tersebut sudah menyiapkan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
ProHealth sebagai salah satu produk unggulan dari Manulife Financial, memberikan proteksi kesehatan SEUMUR HIDUP. Tidak seperti asuransi kesehatan lainnya yang hanya memproteksi sampai umur 65 tahun atau 75 tahun, ProHealth memproteksi sampai umur 99 tahun, walaupun membayar HANYA sampai umur 70 tahun. Bukan hanya itu saja, pada umur 75 tahun, bonus manfaat akan ditambahkan 50% dari Uang Pertanggungan Awal.
ProHealth juga akan mengembalikan sejumlah premi yang sudah dibayarkan , bila terjadi resiko meninggal pada tertanggung sesuai dengan ketentuan berlaku.
Masih ada produk kesehatan lain yang lebih baik dari ini ?

Manulife dan Pro Health – Asuransi Kesehatan Seumur Hidup