Hubungan Warisan, Pajak dan Asuransi

Setiap dari pemilik aset, biasanya memikirkan bagaimana asetnya bisa diturunkan ke Ahli Waris, bila suatu hari dirinya terjadi resiko meninggal.

Berbagai cara dipilih oleh para pemilik aset. Ada yang mewariskan properti, uang tunai, asuransi, dan aset-aset barang lainnya.

Bila seorang pemilik aset mewariskan properti, bagaimana perhitungannya terkait pajak ?

Bila saat kejadian resiko meninggal, ternyata properti masih atas nama pemilik aset yang lama, harap diingat bahwa pada saat ahli waris mau menjual diharuskan membayar BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) sebesar 5%.

Contoh :

Bpk A mempunyai aset tanah 1000 m di suatu kota. Setelah ia meninggal , maka ahli waris yang ingin menjual tanah tersebut harus membayar sebesar :

Harga tanah misalnya @Rp 30 Juta/m , maka harga tanah total 1000 * 20 Juta = Rp 20 Miliar

Maka BPHTB yang harus dibayar = 5% * 20M = Rp 1 M

Biaya BPHTB ini yang bisa disebut sebagai Resiko Susut , karena dari harga tanah Rp 20 Miliar , berkurang Rp 1 Miliar sebagai pajak / biaya.

Bila seseorang mewariskan saham di suatu perusahaan (emiten) senilai Rp 1 Miliar , bagaimana juga perhitungan pajak saat mau mewariskan kepada ke 2 anaknya ?

Karena Anak pertama sedang di luar negeri, Ia menyerahkannya kepada anak ke-2 untuk mengatur semua surat-suratnya. Suatu ketika , emiten (perusahaan) mau buyback (membeli kembali) saham perusahaan sebesar Rp 2 Miliar, maka dana diberikan kepada anak ke-2 sesuai dengan dokumen atas nama anak ke-2, yang setelahnya si Anak membayar PPH (Pajak Penghasilan). Pada saat mau memberikan bagian kepada anak pertama, maka kembali lagi dana tersebut dikenakan PPH atas nama anak pertama, sehingga dana berkurang dikarenakan 2x terkena pajak.

Bila seorang Pengusaha rumah duka, bagaimana cara mewariskan bisnisnya kepada ke-3 anaknya ? 

Anak pertama , sekolah di Amerika, begitu pulang tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. Anak kedua, sekolah di Amerika, tidak mau pulang. Tinggal harapan anak ketiga. Anak ke-3 mau pulang dan meneruskan usahanya, tetapi pada suatu ketika, si Anak merasa beda value. Kalau bisnis rumah duka, mendapat uang bila ada yang meninggal, sedangkan si Anak merasa, kalau orang meninggal seharusnya dibantu. Sehingga antara orang tua dan anak mempunyai value yang berbeda, si Anak akhirnya tidak mau meneruskan usaha rumah dukanya.

Bila memberikan warisan dalam bentuk polis asuransi jiwa kepada anak atau ahli waris, bagaimana perhitungan pajaknya ?

Bagaimana hubungannya antara warisan, pajak dan asuransi ?

Hubungan Warisan, Pajak dan Asuransi :

1. Nilai Klaim yang diterima atas asuransi adalah “Bebas Pajak”.
Menurut UU Perpajakan no. 36 tahun 2008 Pasal 4 ayat 3 mengatakan :
Yang dikecualikan dari objek pajak adalah:
e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;

2. Benefeciary / ahli waris dari polis asuransi jiwa “Bebas Sengketa”.
Bila warisan, ahli waris masih bisa disengketa, atau dituntut hukum mutlak (hukum .Perdata). Kalau ahli waris polis asuransi jiwa tidak bisa disengketa / dituntut.

3. Nilai investasi yang ada di Polis Asuransi Jiwa “Bebas Pajak”.
Nilai investasi yang ada di dalam Produk unit link merupakan bagian dari produk asuransi, sehingga bukan merupakan objek pajak. Merujuk kepada :

• Surat dari Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Peraturan II
melalui suratnya nomor S-492/PJ.031/2009 tertanggal 18 Mei 2009 kepada Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), pada point 4.b (Lampiran II) dinyatakan bahwa produk asuransi unit link merupakan produk asuransi, sehingga atas biaya pengelolaan investasi yang merupakan bagian atau merupakan satu kesatuan di dalam produk asuransi unit link
dari Perusahaan Asuransi Jiwa tidak terhutang PPN,
• bahwa berdasarkan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (“Bapepam-LK”) Nomor KEP-104/BL/2006 tanggal 31 Oktober 2006 tentang Produk Unit Link, pada Lampiran Keputusan tersebut, yaitu Butir (1) dinyatakan bahwa Produk Unit Link adalah Produk Asuransi Jiwa yang memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) Nilai manfaat
yang dijanjikan ditentukan oleh kinerja subdana investasi yang dibentuk untuk unit link tersebut; (b) Nilai manfaat yang diperoleh dari subdana investasi dinyatakan dalam unit; dan (c) Mengandung pertanggungan risiko kematian alami,
• bahwa berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima
premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang
tidak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan,
• bahwa sebagai Produk Asuransi Jiwa, Produk Unit Link juga terikat dengan definisi Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tersebut, dengan memberikan “Polis Asuransi” kepada Pemegang Polis yang merupakan perjanjian yang menjadi dasar hukum
dalam hubungan hukum di antara Perusahaan Asuransi dengan Pemegang Polis, bahwa Polis Asuransi tersebut yang diberikan kepada dan dimiliki oleh Pemegang Polis, tidak dapat diperjualbelikan karena bukan merupakan Surat Berharga yang dapat diperjualbelikan selayaknya suatu produk investasi pasar modal sehingga dengan demikian,
berdasarkan uraian tersebut di atas, terbukti bahwa Produk Unit Link adalah merupakan Produk Asuransi Jiwa,
( sumber : Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-53138/PP/M.IIB/16/2014)

Bila mempunyai aset/warisan berupa properti atau aset lainnya, berarti harus menunggu ada pembelinya untuk mendapatkan dananya, setelah ada dananya, maka penerima dana (ahli waris) akan membayar sejumlah pajak penghasilan.

Bila ada warisan yang bisa memberikan fasilitas “Bebas Pajak” dan likuid (terima dana) kepada ahli waris, maka asuransi bisa menjadi alternatif bagi orang tua / pemilik aset dalam merencanakan warisan  (legacy planning) dan pajak (tax planning).

Semoga menambah pengetahuan tentang warisan, pajak dan asuransi.

Pengalaman Menyedihkan dari Seorang Agen Asuransi

 

Banyak orang mengatakan profesi seorang Agen Asuransi adalah profesi yang sering ditolak atau dijauhi oleh teman-teman atau orang sekitarnya. Itu memang salah satu pengalaman menyedihkan. Tapi Saya mengalami hal yang lebih menyedihkan sekali.

 

Awal Desember 2015, klien saya pria berusia 46 tahun mengambil asuransi kesehatan rawat inap, tetapi kelas kamar 500, dengan alasan sudah punya dari asuransi lain. Padahal klien mempunyai bisnis perdagangan cukup besar.
Satu (1) bulan setelah polis terbit, klien terdeteksi mengidap penyakit diabetes, dan hanya melakukan rawat jalan untuk kontrol dokter.
Setelah polis berjalan 1 tahun, klien tidak lanjut bayar, padahal sudah diingatkan, akhirnya polis lapse.
Sampai akhirnya di bulan April 2017, klien mengatakan mau lanjutkan asuransi. Beruntungnya polis masih bisa dipulihkan otomatis dikarenakan belum ada histori klaim rawat inap, sehingga klien hanya membayar premi lanjutan, dan polis aktif kembali.
Bulan September 2017, klien menelpon karena tiba-tiba jari tangannya sakit, hanya karena menangkap bola. Klien pergi ke dokter dengan membawa formulir klaim kecelakaan, dan hasil diagnosa dokter adalah tulang dari jari-jari tangan kiri ada yang retak (dilihat dari hasil rontgen), dan biaya dokter dan pengobatan hampir Rp 3 juta.

Setelah dibantu untuk pengajuan klaim dan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, klien berniat upgrade kelas kamar kesehatannya.
Respon Saya saat itu adalah memberikan informasi kemungkinan terburuk bila di upgrade, mengingat klien sudah mengidap diabetes.
Saat yang sama pula, klien akhirnya juga mau membeli uang pertanggungan jiwa sebesar Rp 2M.

Mungkin karena klien sudah merasakan manfaat asuransi, makanya klien baru percaya sama asuransi. Karena dulunya hanya berpikir bahwa membeli asuransi, ‘yang penting ada’.

Setelah melewati masa pemeriksaan kesehatan akibat riwayat penyakitnya, maka keputusan dari perusahaan asuransi, adalah :
1. upgrade asuransi kesehatan rawat inap tidak dapat diupgrade, karena riwayat penyakit sudah ada. Tetapi klien masih bisa menggunakan manfaat kesehatan dengan kelas awal
2. asuransi jiwa UP 2M tidak dapat diterima , karena klien ternyata juga mengidap jantung koroner sejak Sept 2017, yang mengakibatkan risiko tinggi untuk klien tersebut.

Bagi seseorang dengan profesi agen asuransi seperti saya, pengalaman ini menyedihkan bukan karena kehilangan ‘case‘ atau komisi, tetapi adalah :
1. klien kehilangan kesempatan menyiapkan dana darurat untuk memproteksi kebutuhan keuangan keluarga dan bisnisnya. Terlebih lagi, ke-3 anaknya masih sekolah dan kuliah
2. kalau kita mengenal teman atau kenalan kita yang masih berusia muda dan produktif, mengidap penyakit yang beresiko tinggi, pastilah kita prihatin, apalagi orang tersebut kita kenal baik
3. seharusnya kita agak ‘memaksa’ dari awal begitu dia membeli polis asuransi kesehatan untuk membeli asuransi jiwa, apabila kita mau menolong keluarganya.

Kalau sudah ada histori ditolak untuk pengajuan asuransi dan mempunyai penyakit beresiko tinggi, akan sulit diterima di asuransi manapun.

Dari pengalaman ini, Saya menyadari benar, bahwa profesi ini bukanlah profesi main-main, jika sudah ‘nyemplung’, jangan ada kata keluar, tetapi malah harus terus menerus mendalami kebutuhan dan perencanaan keuangan terutama untuk persiapan dana darurat untuk orang-orang yang belum terproteksi.
Seseorang boleh dikatakan sangat hebat bila sudah mempunyai aset berlipat-lipat ganda, tetapi jika tidak mempunyai proteksi, maka aset itu akan habis dalam sekejap dan keluarga yang ditinggalkan akan menjadi beban orang lain, bila tidak direncanakan dengan benar.

Saya Bonie Corina, SFP Manulife Indonesia. Itu pengalaman saya, bagaimana pengalaman Anda ?

Salah Satu Tips Mencapai Tujuan Keuangan Anda

IMG_20170607_234826_857

Hal yang sering dicari oleh calon klien adalah “Premi termurah” tanpa memikirkan manfaat apa yang didapat.
Karena pada umumnya pemikiran mereka adalah “Yang penting ada.”
Apakah “Yang penting ada” ini memberikan jaminan perlindungan bagi calon klien tersebut?
Pastinya YA, selama calon klien tersebut hidup sehat dan kuat.

Coba kita melihat mundur ke belakang 10 tahun, apakah keadaan kesehatan kita sekarang sama dengan keadaan 10 tahun yang dulu ?
Saya sering dengar calon klien saat ditawarkan tambah manfaat rumah sakit dan penyakit kritis, jawabannya ‘Saya tidak mau sakit. Ga usahlah beli rumah sakit mahal-mahal”.
Tapi setelah obrol panjang lebar, akhirnya calon klien bertanya, “Apakah manfaatnya ini cover fisiotherapi? Karena saya sudah 2x fisiotherapi, mahal ui”.
Loh…loh…loh….. Jadi sadarkan ya, bahwa :
1. Pengobatan itu mahal
2. Keadaan kita sekarang berbeda dari keadaan kita di 10 tahun ke belakang
3. Penyakit datang tanpa permisi

Apakah saat kita 10 tahun yang lalu akan mengetahui keadaan kita di masa sekarang?
Yang biasanya takut kena kanker, ternyata kena gangguan tulang belakang.
6 tahun lalu, Saya membeli tambahan manfaat rawat jalan kanker untuk Papa saya seorang perokok berat. Ternyata tahun lalu beliau malah menderita penyakit TBC.
Apakah Saya tahu beliau akan menderita TBC saat mau membeli polis ?

RESIKO itu datang TANPA KEPASTIAN, baik waktu dan besarnya resiko.
PREMI Asuransi itu mempunyai angka dan waktu yang PASTI.

Bila ada yang PASTI PASTI saja, mengapa harus memilih yang TIDAK PASTI ?

#perencanaankeuangan #resikohidup
#financialplanning #financialfreedom #risk #insurance #criticalillness
#life #lifeisgood #lifeiseasy #lifestyle

Menentukan “Nilai Proteksi Ideal”

Sebagian besar dari kita yang masih berusia produktif, adalah generasi sandwich.
Di mana kita bekerja menghasilkan uang untuk diri kita sendiri, orang tua, dan adik/saudara/anak.
Kemampuan untuk menjadi produktif ini tidak akan terlepas dari kita, selama kita masih hidup dalam keadaan baik-baik saja atau sehat.

Pernahkah terpikirkan,
Bagaimana kalau terjadi resiko meninggal pada kita saat berada dalam kategori usia produktif ?
Siapakah yang akan menggantikan kita sebagai generasi sandwich ?
Apakah yang dapat menggantikan biaya kehidupan orang tua dan adik/saudara/anak ?

Untuk menjawab itu semua, sebagai salah satu solusinya adalah pada saat kita masih dalam keadaan sehat dan produktif, kita harus menentukan “Nilai Proteksi Ideal” untuk diri kita sendiri dan kemudian menyiapkannya dengan cara yang tepat.

“Nilai Proteksi Ideal” adalah nilai yang ideal untuk menggantikan nilai seseorang dari resiko yang terjadi tiba-tiba pada dirinya, sehingga nilai tersebut bisa memenuhi kebutuhan kehidupan keluarganya di masa yang akan datang.

“Nilai Proteksi Ideal” ini adalah sama dengan Uang Pertanggungan yang merupakan manfaat utama dari Asuransi Jiwa.
Sehingga pada saat seseorang sudah dapat menentukan “Nilai Proteksi Ideal” bagi dirinya, maka ia menyiapkannya melalui besar Uang Pertanggungan dari asuransi jiwa.

Salah satu cara menentukan “Nilai Proteksi Ideal” adalah dengan membagi penghasilan setahun dengan bunga deposito rata-rata per tahun.
Contoh :
Saudara A berusia 30 tahun, mempunyai penghasilan Rp 10 Juta/bulan.
Maka penghasilannya adalah Rp 120 Juta/tahun.
Bunga deposito adalah 6%/tahun.
Maka “Nilai Proteksi Ideal” saudara A = 120 Juta : 6% = 2 M

Sudahkah Saudara A menyiapkan dana sebesar Rp 2M untuk keluarganya, bila suatu hari ia terkena resiko meninggal tiba-tiba ?
Butuh waktu lama untuk mengumpulkan dana sebesar Rp 2M, apalagi kita tidak pernah tahu kapan resiko itu datang. Apakah di saat resiko datang, Saudara A sudah siap dengan tabungannya Rp 2 M ?
Hanya dengan menggunakan asuransi jiwa, Saudara A dengan keuangan terbatas, bisa membentuk tabungan/aset sebesar Rp 2M dalam waktu singkat, tanpa mengganggu kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Salah satu asuransi jiwa yang bisa dipilih adalah MEA (Manulife Essential Assurance) di mana Saudara A cukup menyisihkan :
– 24 Juta/tahun (20% dari penghasilan tahunan) hanya 10 tahun, total Rp 240 Juta atau
– 17 Juta/tahun (17% dari penghasilan tahunan) hanya 20 tahun, total Rp 170 Juta
untuk menciptakan tabungan/aset sebesar Rp 2M yang berlaku seumur hidup.

mea

Selama Anda masih sehat dan produktif, dan peduli pada keluarga atau orang-orang yang Anda kasihi, mulailah merencanakan keuangan Anda bersama Financial Consultant Anda yang mengerti dan terpercaya.

Bonie Corina, SFP | 62-812-9409026

Menabung di Asuransi sama dengan Berinvestasi

Setiap dari kita yang belum mengerti tentang kegunaan asuransi, selalu menganggap asuransi adalah :
1. beban pengeluaran dari pendapatan kita.
2. dana yang sewaktu-waktu bisa diambil
3. merugikan dari segi investasi

Tetapi bila kita telusuri, apakah benar asuransi itu beban pengeluaran dan asuransi itu merugikan?
Tahap paling awal sekali sebelum kita mau memilih dan menabung di asuransi, pahami dahulu bahwa tujuan untuk berasuransi adalah untuk proteksi diri tertanggung.
Apakah yang diproteksi oleh asuransi ?
1. Jiwa
2. aset
3. Income atau pendapatan

Bagaimana asuransi bisa memproteksi jiwa ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi aset ?
Bagaimana asuransi bisa memproteksi income ?

Sebagai proteksi jiwa, asuransi ini berfungsi memberikan uang pertanggungan di saat tertanggung mengalami resiko meninggal. Setiap resiko datang secara tiba-tiba, tanpa memberi petunjuk atau gejala-gejala. Seberapa banyak sekarang orang mengalami kecelakaan di jalan ataupun di rumah, yang tidak jarang pula menyebabkan ketidakmampuan total atau meninggal, dan yang sering terdengar belakangan ini adalah penderita kanker yang tiba-tiba dan meninggal dalam 1-2 bulan.

Minggu lalu, ayah dari teman saya meninggal karena kanker paru-paru, di mana hasil diagnosa diketahui bulan Mei 2015 lalu. Pertengahan Agustus mengalami pendarahan melalui , maaf, lubang dubur, sehingga harus transfusi darah, dan dilakukan tindakan ‘mengikat usus’, tetapi hanya bertahan 1 minggu, ayahnya meninggal, dan biaya di rumah sakit total Rp 200 Juta untuk 1 minggu di ICU.
Apakah Anda termasuk orang yang sudah siap dengan tabungan sebesar itu ?
Bersukur bila kita punya tabungan sebesar itu , dan kita masih bisa melanjutkan hidup kita dengan tidak berkurang suatu apapun.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi aset, untuk Anda seorang Ayah / Ibu sedang dalam program cicilan rumah, apakah yang akan dilakukan bila terjadi resiko meninggal atau hidup tapi dalam keadaan cacat karena kecelakaan? Apakah program cicilan rumah berhenti begitu saja, dan akhirnya keluarga Anda pindah ke kontrakan rumah yang lebih murah atau meminta-minta tumpangan tinggal dengan keluarga lain?
Dan lagi-lagi kita bersukur , bila masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan program cicilan rumah atau aset lainnya, dan hidup kita masih bisa lanjut seperti biasa.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Sebagai proteksi income atau pendapatan, bila Anda sedang dalam posisi sebagai seorang karyawan di suatu perusahaan yang menjadi tulang punggung keluarga , atau sedang menabung untuk merencanakan sesuatu, tetapi tiba-tiba terjadi resiko kecelakaan yang menyebabkan ketidakmampuan total atau cacat, apakah hal itu mengganggu kelangsungan hidup keluarga Anda atau rencana tabungan Anda?
Bersukur bila kita masih mempunyai tabungan lebih untuk tetap melanjutkan kehidupan keluarga kita atau rencana tabungan kita.
Tetapi bagaimana dengan orang yang belum siap untuk tabungan sebesar itu ? Bagaimana menabung dalam waktu singkat untuk bisa mempunyai tabungan sebesar itu ?

Menabung di Asuransi sebenarnya sama dengan berinvestasi, dengan modal sekecil-kecilnya, kita mendapat benefit yang besar yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Mengapa dibilang berasuransi sama dengan berinvestasi.
Ada ilustrasi seorang wanita berusia 36 tahun yang menginginkan proteksi jiwa sebesar Rp 200 Juta dan proteksi penyakit kritis sebesar Rp 600 Juta sampai usia 99 tahun, dan diharuskan menabung di asuransi sebesar Rp 13 Juta per tahun, artinya dia cukup menabung sebesar Rp 1.1 Juta per bulan.
Bila wanita itu sudah menabung selama 10 tahun, artinya sudah sebesar Rp 130 Juta, tetapi terjadi resiko meninggal, maka ahli waris mendapatkan warisan/tabungan dari wanita itu sebesar Rp 200 Juta.
Atau bila terkena penyakit kritis, yang mengharuskan wanita ini berobat ke mana-mana dengan biaya yang cukup tinggi, maka wanita ini masih mempunyai tabungan Rp 600 Juta.
Bila wanita ini sudah menabung 20 tahun, yaitu sebesar Rp 260 Juta, dan tiba-tiba didiagnosa terkena kanker, maka secara otomatis, wanita ini sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.
Menabung Rp 260 Juta selama 20 tahun, dan sudah mempunyai tabungan Rp 600 Juta untuk berobat.

Tetapi, bila sampai usia 99 tahun, wanita ini tidak meninggal atau sehat-sehat saja, dia tetap mendapatkan nilai polis dari tabungan asuransinya. Dan bersukur bila wanita ini tetap hidup sehat sampai usia 99 tahun.
Bukankah itu namanya berinvestasi ? Dan ingat, saat menabung di asuransi, yang kita jaminkan adalah diri kita , satu-satunya aset yang paling berharga. Lebih mahal dari mobil, lebih mahal dari rumah, lebih mahal dari apapun di dunia ini.
Apakah kita lebih mempertahankan barang-barang mahal di dunia ini dibandingkan diri kita yang paling mahal ?
Diri kita bisa bekerja untuk menghidupkan keluarga, bisa untuk membeli mobil, rumah dan aset lainnya, bahkan diri kita bisa berbagi untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan, tidakkah diri kita lebih berharga dari apapun di dunia ini.

Jadi, hargailah diri kita dari apapun di dunia ini, karena diri kita berharga dan mampu memberikan yang terbaik untuk diri kita dan orang lain.

Bonie Corina | via HP 0812-9409026 | via BB 528D8E3D

Berapakah Biayanya ?

ProActive Plus
ProActive Plus

Pertanyaan itu yang diajukan oleh seseorang, saat kami membicarakan tentang kematian.

Setiap orang tidak akan bisa terelakkan bahwa dirinya atau diri dari sanak saudara atau keluarga akan meninggal.  Tetapi setiap orang hanya bertanya-tanya kapan, atau menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa.

Menurut orang tersebut, biaya meninggal termasuk untuk dikuburkan atau persemayaman, dibutuhkan kira-kira Rp 20 juta. Tetapi, apakah cukup hanya dengan uang tersebut ? Kita membutuhkan peti mati yang harganya sudah jutaan, sewa tempat persemayaman, orang-orang yang membantu, sewa bis, dan lain-lain.

Pertanyaan : Apakah cukup hanya dengan  dana Rp 20 juta, jika terjadi resiko meninggal di saat yang tidak kita ketahui ?

Jika ya, apakah Anda siap untuk mengeluarkan biaya sebanyak itu bila sudah waktunya ?

Jika tidak, apakah yang harus dilakukan untuk memenuhi biaya tersebut ?

Setiap orang mengatakan  “saya tidak butuh asuransi jiwa”, “kamu sumpahin orang tua saya mati?”, dan beberapa kalimat negatifnya.

Tetapi boleh kita pertimbangkan, apakah kita sudah siap dengan dana yang akan dibutuhkan suatu saat nanti ?

Boleh dibilang, terkadang kita mengabaikan pentingnya asuransi jiwa dalam hidup seseorang, dengan alasan duit hangus, atau mahal.

Sebenarnya, bila kita coba hitung-hitung, setiap premi yang kita bayarkan , jumlahnya jauh lebih kecil daripada uang pertanggungan yang dikeluarkan oleh asuransi.

Sekitar 2 tahun lalu, saya mengasuransikan papa saya yang saat itu berumur 51 tahun dengan premi Rp 8.5 juta per tahun dengan uang pertanggungan Rp 200 juta. Sekilas kita melihat, mungkin premi Rp 8.5 juta per tahun, agak mahal. Tetapi, apakah kita pernah berpikir, bahwa pada saat terjadi resiko meninggal pada papa saya, segala keperluan untuk persemayaman dan pemakamannya bisa ditutupi oleh uang klaim pertanggungan asuransi nanti. Bila resiko terjadi saat tahun ke-10, saya hanya mengeluarkan uang Rp 85 juta, tetapi mendapatkan Rp 200 juta untuk membantu keperluan saya nantinya.

Jika Anda berpikir mengeluarkan uang yang cukup besar untuk premi, pernahkah Anda berpikir bahwa Anda akan mendapatkan berkali-kali besarnya dari uang yang Anda bayarkan, bisa 20x, 30x, atau mungkin ratusan kali.

Secara sederhana , bisa disimpulkan jika kita hanya perlu mengeluarkan yang kecil , untuk mendapatkan yang besar, mengapa tidak dilakukan sekarang juga ?

Berinvestasilah di asuransi , selama kita mampu, sebelum dana kita habis oleh gaya hidup kita atau cara kita yang salah mengolah dana.

#Proactive Plus , Proliving