Dompet vs Dompet Asuransi

Siapa yang selalu bawa Dompet saat keluar rumah ?

Walau sekarang sudah diganti e-Dompet atau e-Money, pastinya otomatis kita membawa “Dompet” kalau kita ke mana-mana.

Apa sih isi “Dompet” ?

Pastinya isinya akan dibutuhkan sekali kalau tiba-tiba ada hal mendadak, untuk belanja atau pengeluaran tak terduga.

Lalu berapa banyak dana yang disiapkan ?

Kalau bisa ya tak terhingga dananya, malah kadang kita suka bergantung pada kartu debet atau kartu kredit, kalau saat itu uang tunai kurang.

Kapan kita ngisi “Dompet” ?

Selama kita masih punya income (usia produktif), tetap terus mengisi “Dompet” kita sampai kita bilang cukup. Tapi pernah ada kata cukup ?

Sama fungsinya juga dengan “Dompet Asuransi” yang kadang suka terlupakan atau tidak diprioritaskan dalam perencanaan keuangan.

Apa sih isi “Dompet Asuransi?”

Untuk membayarkan kejadian mendadak berupa resiko sakit atau kecelakaan di luar dugaan kita.

Buat tabungan kita juga di saat usia non produktif atau saat kita sudah tidak mendapat ‘income’ lagi.

Gaya hidup bisa turun saat pensiun, tapi proteksi tidak bisa turun, karena inflasi.

Kapan mengisi “Dompet Asuransi?”

Tentunya sama, saat kita masih di usia produktif, ya sekitar 10% dari “Dompet”.

Tunda atau tidak sama sekali ?

#dontstartfromzero

#covid19 #workfromhome #bestinsurance

Persiapan Dana Darurat dan Pensiun

Yakin TABUNGAN Anda sekarang bisa diandalkan untuk masa depan Anda ?
Yakin INVESTASI Anda sekarang bisa diandalkan untuk multiplikasi uang Anda ?
Yakin UANG TUNAI Anda sekarang bisa diandalkan untuk membayar biaya resiko hidup (sakit atau kecelakaan) ?

Yuk kita lihat satu-persatu.
TABUNGAN – Sudah berapa lama Anda menabung dan berapa nilainya?
Berapa lama lagi Anda mau menabung?
Bila Anda tidak sehat lagi, apakah Anda masih bisa menabung hingga mencapai GOAL FINANSIAL Anda ?

INVESTASI – Berapa besar modal saat berinvestasi dan berapa lama? Apakah selalu harganya naik? Apakah ada biaya bulanan, PAJAK? Apakah hasil pengembalian Investasi Anda, bisa diandalkan untuk membayar biaya resiko hidup Anda?

UANG TUNAI – Berapa besar uang tunai Anda saat ini? Berapa bagian yang siap dikeluarkan, bila suatu saat digunakan untuk membayar biaya sakit ? Apakah cukup untuk melanjutkan kehidupan Anda di masa yang akan datang ?

Mempunyai TABUNGAN, melakukan INVESTASI, serta menyimpan UANG TUNAI adalah beberapa cara menyiapkan dana urgensi sekarang dan hari tua.

Diversifikasi dana Anda ke ASURANSI, HANYA butuh dana kecil (10% income) tetapi cukup untuk membayar resiko hidup Anda TANPA ganggu tabungan lain.

#financialgoals #financialplanner
#covid19 #urgentfund #pandemic

Don’t Start From Zero

Setiap orang berlomba dengan waktu untuk mengumpulkan aset atau kehidupan yang sangat nyaman untuk mereka di masa tua nanti. Mengumpulkan uang lalu membeli aset-aset yang dianggap akan membuat mereka lebih kaya lagi.

Mereka sangat bahagia dan puas dengan property miliknya, saham, mobil baru, emas dan aset-aset lainnya.

Tetapi apa yang terjadi jika tiba-tiba pria ini mengalami kecelakaan atau sakit ?

Hal pertama yang dilakukan adalah, mengumpulkan semua uang kasnya untuk membayar biaya pengobatan.

Bagaimana bila uangnya tidak cukup ?

Maka akan menjual aset-aset yang paling likuid atau menggadaikan aset-aset mereka untuk mendapatkan uang lebih banyak.

Pada akhirnya, pria ini menyadari bahwa ia telah kehilangan banyak asetnya yang sudah diperoleh sejak bertahun-tahun lalu.

Pria ini lupa bahwa dalam piramida keuangan, sangat penting untuk memposting uangnya untuk hal-hal yang tidak bisa dikontrol, seperti sakit, kecelakaan dan disability, serta meninggal dini.

Selanjutnya uang diposting ke kebutuhan prioritasnya, seperti Rumah, Tabungan Pendidikan dan Tabungan Pensiun.

Yang terakhir adalah untuk Investasi, dengan tujuan meningkatkan kekayaannya.

Apakah ada yang tahu, kapan kita akan mengalami resiko ?

Apakah Anda bisa memilih, resiko yang anda inginkan ?

Pada saat resiko datang, Anda lebih suka membayar sendiri biaya pengobatannya atau perusahaan asuransi yang membayar ?

Sebenarnya, hanya membutuhkan 10% dari Pendapatan kita untuk membayar premi.

Formula sederhana untuk mengetahui besaran manfaat yang dimiliki adalah :

Uang Pertanggungan Jiwa = 10x pendapatan tahunan, misalnya pendapatan tahunan kita adalah Rp 500 Juta, maka uang pertanggungan jiwa = Rp 5M

Asuransi Penyakit Kritis = 5 x pendapatan tahunan

Tabungan Pendidikan / Pensiun = 20* dari Pendapatan


Haruslah dimulai dari sekarang.

Anak Bukan Celengan, Putuskan Rantai Sandwich Generation!

Menikmati hari tua dengan nyaman dan tenang tanpa terbebani masalah finansial merupakan impian setiap orang. Terlebih lagi, melihat anak-anak sukses di kehidupan mereka yang akan datang, turut melengkapi kebahagiaan kehidupan orang tua di masa pensiun. Namun, apakah impian kita tersebut dapat terwujud dengan manis ditengah beragam kebutuhan keluarga dan rumah tangga, ditambah lagi dengan berbagai risiko kehidupan yang bisa datang kapan saja dan dimana saja?

Menurut data MISI (Manulife investor Sentiment Index) ke-10, tabungan pendidikan merupakan prioritas utama orang tua atau investor dalam mengelola keuangan. Tabungan pendidikan bahkan menempati porsi yang paling tinggi selain simpanan dana pensiun dan biaya kesehatan. Fakta yang menarik lainnya, masyarakat rela berutang yakni sebesar 28% yang dialokasikan untuk pendidikan anak sedangkan 34% lainnya untuk gaya hidup.

Sementara itu, data MISI (Manulife investor Sentiment Index) ke-6 menunjukkan hanya 5,34% masyarakat yang sudah memiliki program pensiun atau hanya sekitar 3,3 juta dari 120 juta populasi penduduk di Indonesia yang telah memikirkan hari tua mereka. Jumlah ini sangat kecil dan berpeluang memicu timbulnya lebih banyak lagi fenomena Sandwich Generation. Sebuah kondisi, dimana anak-anak kita kelak harus tetap membantu membiayai orang tua yang telah memasuki masa pensiun dan pada saat yang bersamaan juga harus memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga mereka sendiri.

Sandwich Generation dialami oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia karena berbagai faktor. Salah satu yang utama adalah minimnya pengetahuan mengenai perencanaan keuangan serta produk investasi yang tepat untuk masa depan sesuai kebutuhan. Selain itu, sudah menjadi tradisi dan hal yang biasa di Indonesia ketika seseorang membiayai keluarga dan orang tua secara bersamaan. Kondisi ini terus berulang di masyarakat kita dan seolah menjadi yang tidak putus-putus.

Sudah saatnya orang tua mengubah pemikiran bahwa Anak Bukanlah Celengan. Anak-anak tidak berkewajiban untuk menanggung biaya hidup orang tua di masa depan. Selain itu, orang tua tidak bisa mengharapkan “imbal hasil” atas seluruh biaya dan kewajiban yang sudah mereka keluarkan untuk anak-anak. Biarkanlah anak-anak kelak meraih kesuksesan mereka di masa mendatang sekaligus hidup bahagia dengan keluarga mereka nantinya.

Rantai Sandwich Generation ini harus diputus sekarang juga dengan kesadaran masyarakat untuk melek keuangan dan belajar lebih banyak tentang perencanaan keuangan yang tepat sedini mungkin. Langkah berikutnya, mencari informasi mengenai produk keuangan dan investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Dan, selalu ingat untuk menambahkan unsur proteksi dalam perencanaan keuangan kita agar kita dapat hidup dengan tenang meraih impian dan aspirasi kita tanpa perlu khawatir akan berbagai risiko kehidupan yang mungkin terjadi. Jika diperlukan, berkonsultasilah dengan penasehat keuangan maupun agen asuransi untuk membantu Anda memberikan solusi finansial yang tepat.

Hal yang juga tidak kalah penting, orang tua harus memberikan edukasi keuangan kepada sang buah hati sejak dini, misalnya menabung, investasi, asuransi, dan perencanaan keuangan. Tujuannya, agar mereka familiar dengan topik keuangan sekaligus memahami bagaimana mengelola keuangan yang tepat serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sejak dini.

Yuk, pastikan anak-anak dapat menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas finansial, dapat menikmati hidup di tengah berbagai risiko kehidupan dengan terproteksi oleh produk asuransi yang tepat, serta terputusnya lingkaran rantai Sandwich Generation.

Manulife hadir dengan menyediakan berbagai jenis produk asuransi yang bisa dipilih, seperti asuransi jiwaasuransi kesehatanasuransi pendidikanasuransi investasi, dan jugatabungan pensiun.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk-produk asuransi Manulife jangan ragu untuk menghubungi 0812-9409026

Sumber : https://www.manulife.co.id

Cerdas Berasuransi

Sebagai salah satu bentuk komitmen Manulife untuk mengedukasi masyarakat tentang berasuransi, maka Manulife bersama Metro TV mengadakan acara “Cerdas 5 Menit” setiap hari Senin-Jumat pk 08.55 sejak tahun 2013, serta mendapatkan penghargaan dari MURI

Dikutip dari beritasatu.com :

Pendiri Museum rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana memberikan Penghargaan MURI kepada Chief Excecutive Officer & President Director Manulife Indonesia Chris Bendl, di Jakarta, Selasa (20/1). Manulife dianggap oleh MURI sebagai perusahaan asuransi pertama yang memproduksi dan menayangkan program edukasi melalui siaran televisi. Hadir pada acara penyerahan penghargaan Vice President Director & Chief Agency Officer Manulife Indonesia Nelly Husnayati, Wakil Ketua Umum & Direktur MURI Aylawati Sarwono, Pemimpin Redaksi Metro TV Panda Nababan, dan Anggota dewan Kemisioner edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Kusumaningtuti S. Setiono. Sejak Oktober 2013 Manulife bekerjasama dengan Metro TV memproduksi dan menayangkan dua program edukasi keuangan dan asuransi ‘Cerdas 5 Menit’ dan ‘Gaya Hidup Masa Depan’. BeritaSatu/Mohammad Defrizal

Bentuk komitmen lain adalah, kami memberikan pelayanan edukasi Asuransi “Cerdas Berasuransi” di program “Office to Office” dan “Community to Community”.

Gunakan program ini untuk kita sama-sama belajar dan memilih Asuransinyang tepat untuk kita.

#ManuLifeIndonesia #cerdasberasuransi #proteksiincome #asuransipendidikan #pensiun

6 Reasons Why You Should Buy Life Insurance

For many people, their first experience with life insurance is when a friend or acquaintance gets an insurance license. In my case, a college friend, recently hired by a major insurance company, contacted me (along with all of his other friends) to buy a $10,000 policy underwritten by his company.Prime DayTwo-days of epic deals start July 15th. See early deals now.

Unfortunately, however, this is how most people acquire life insurance – they don’t buy it, it is sold to them. But is life insurance something that you truly need, or is it merely an inconvenience shoved under your nose by a salesperson? While it may seem like the latter is true, there are actually many reasons why you should purchase life insurance.

Reasons to Buy Life Insurance

As I grew older, got married, started a family, and began a business, I realized that life insurance was indispensable and fundamental to a sound financial plan. Over the years, life insurance has given me peace of mind knowing that money would be available to protect my family and estate in a number of ways, including:

1. To Pay Final Expenses
The cost of a funeral and burial can easily run into the tens of thousands of dollars, and I don’t want my wife, parents, or children to suffer financially in addition to emotionally at my death.

2. To Cover Children’s Expenses
Like most fathers, I want to be sure my kids are well taken care of and can afford a quality college education. For this reason, additional coverage is absolutely essential while my kids are still at home.

3. To Replace the Spouse’s Income
If my wife had passed away while the kids were young, I would’ve needed to replace her income, which was essential to our lifestyle. I also would’ve needed to hire help for domestic tasks we’d shared like cleaning the house, laundry, cooking, helping with schoolwork, and carting kids to doctor’s visits.

4. To Pay Off Debts
In addition to providing income to cover everyday living expenses, my family would need insurance to cover debts like the mortgage so they wouldn’t have to sell the house to stay solvent.

5. To Buy a Business Partner’s Shares
Since I’m involved in a business partnership, I need insurance on my partner’s life. The reason is so if he dies, I will have enough cash to buy his interest from his heirs and pay his share of the company’s obligations without having to sell the company itself. He has the same needs (due to the risk that I might die), and he simultaneously purchased insurance on my life.

6. To Pay Off Estate Taxes
Estate taxes can be steep, so having insurance in place to pay them is essential to avoid jeopardizing assets or funds built for retirement. Use of insurance for this purpose is most common in large estates, and uses permanent (rather than term) insurance to ensure that coverage remains until the end of life.

Pay Off Estate Taxes

How Much Coverage Should I Buy?

The face amount, or “death benefit” of an insurance policy (i.e., the amount of proceeds paid to the beneficiary) should be high enough to replace the after-tax income you would have earned had you lived a full life, presuming you can afford the annual premiums for that amount. In other words, the insurance replaces the income you didn’t have the chance to earn by living and working until retirement due to a premature death.

The proper amount of insurance allows your family to continue their lifestyle, even though your income is no longer available. The actual amount that you should purchase depends upon your present and probable future incomes, any special circumstances affecting you or your family, and your existing budget for premiums.

Whole Life or Term?

Some people prefer to drive Cadillacs or Mercedes, which come with all of the electronic gadgets that make driving safe and as easy as possible. Others prefer less customized makes, equally reliable to their more expensive cousins, but requiring more hands-on attention.

Whole life is the “Cadillac” of insurance; its sponsors try to do everything for you, specifically investing a portion of your premiums so that the annual cost doesn’t increase as you grow older. The investment characteristic of the insurance means that premiums are generally higher than a similar term policy with the same face value. After all, whole life insurance is intended to cover your whole life.

Term insurance, on the other hand, is a stripped-down model of life insurance. There are no excess premiums to be invested, and no promises or guarantees beyond the end of the term, which can range from 1 to 30 years. The annual premium for term insurance is always less than whole life, lacking the investment component, but your premiums will rise (often substantially) once the term period expires.

Both types of life insurance policies (or one of their derivatives) have benefits and drawbacks; both have their place depending upon the needs, desires, and financial objectives of the purchaser. A knowledgeable professional insurance agent can help you decide which type of policy is best for you depending upon your circumstances. But whichever you select, be sure that you have enough coverage to meet your objectives in the short term and the long term. During my lifetime, I have spent thousands of dollars in premiums for life insurance of both types and I have never regretted a single penny of the expense.

Final Word

Some people mistakenly believe that life insurance is a scam. This is due to the fact that the money for premiums is lost if death doesn’t occur during the coverage period (in the case of term insurance), or because many people live to a ripe old age and continue to pay their permanent insurance premiums. Such naysayers compare life insurance protection to gambling, and forgo the protection entirely.

Of course, there is no bet – you will die, but no one knows when. It could be today, tomorrow, or 50 years into the future, but it will happen eventually. Life insurance protects your heirs from the unknowable and helps them through an otherwise difficult time of loss.

Do you have life insurance? Why or why not?

(Source : https://www.moneycrashers.com )

Bonie Corina, SFP | +628129409026

Tax and Legacy Planning

MANULIFE secara berkala mengadakan seminar tentang “Tax and Legacy Planning“, untuk memberikan bekal pengetahuan kepada Nasabah dan calon nasabah, terkait belakangan ini seringnya terjadi sengketa dan tingginya pembayaran pajak yang dialami oleh ahli waris terkait aset yang ditinggalkan oleh Pemiliknya yang sudah meninggal.

Peninggalan aset berupa properti atau tabungan di Bank :
– kemungkinan dilakukan pemblokiran
– terjadinya sengketa
– butuh akte kematian dan akte waris yang membutuhkam waktu, biaya notaris dan biaya lainnya yang diperlukan
– pembayaran Pajak yang sesuai dengan undamg-undang yang berlaku.

Peninggalan manfaat Polis asuransi :
– tidak bisa disengketakan
– pembagian manfaat polis / warisan sesuai list ahli waris yang tercantum di polis, yang dtentukan oleh Tertanggung
Manfaat atau warisan dari Polis merupakan Bukan Objek Pajak, sesuai dengan UU No. 7 th 1983 tentang PPH pasal 4 ayat 3 yang isinya :
Penghasilan yang Tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan adalah :pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa.

Memiliki Asuransi Jiwa sebagai salah 1 perencanaan keuangan yang mempunyai keuntungan :
1. Hemat pengeluaran : uang kecil beli manfaat besar
2. Hemat biaya : tidak perlu biaya notaris untuk pencairan
3. Hemat Pajak : manfaat asuransi bukan objek pajak.

.

Bonie C , 628129409036

#jadiandalanindonesia
#jadiandlannegeriku
#asuransijiwa #proteksiaset

Sudahkah Review Polis-polis Anda ?

Menyambut hari Raya Natal dan Tahun Baru, Manulife mempunyai program-program khusus untuk Anda :
1. Kontrak Uang Pertanggungan (UP) Jiwa *bebas medikal* hingga usia 70 tahun (Kontrak Rp 500 Juta) dan hingga Usia 45 (Kontrak Rp 2.75 M)
Kontrak UP Jiwa ini memberikan dana lumpsum ketika terjadi resiko meninggal dan digunakan untuk LIFE :
L – *Liability* (melunasi hutang)
I – *Income* (mengganti penghasilan keluarga yang ditinggalkan )
F – *Final Expense* ( biaya pemakaman, surat-surat akte waris/aset, pajak properti, dll )
E – *Education* ( biaya PENDIDIKAN Anak )

2. Asuransi Kesehatan ” *bebas inflasi* ” di seluruh luar negeri, kecuali Amerika, dengan batasan tahunan hingga Rp 40M dan *sesuai kuitansi* .

3. Asuransi *Penyakit Kritis* : pemberian dana lumpsump bila terjadi resiko penyakit kritis.
Dana bisa digunakan untuk biaya kehidupan sehari-hari, pengobatan rawat jalan, pengganti penghasilan.
_Perhitungan Pertanggungan Kritis =
Biaya Penyakit Kritis + ( 5 x Biaya Tahunan )_

4. Program Andalan : MPA *bebas medikal hingga Rp 10 M* sampai usia 70 tahun.

*Review kembali* polis-polis Anda, bila Anda mengalami resiko hidup ( *3D – Death, Disability , Disease* ) apakah manfaat polisnya :
1. Cukup untuk menopang biaya keluarga,
2. Cukup untuk membayar biaya pengobatan
3. Cukup untuk melunasi hutang-hutang pribadi atau usaha
4. Cukup untuk membayar gaji karyawan
5. Cukup untuk mengganti pendapatan

Hubungi saya di *08129409026* untuk kita cek ricek polis Anda.
Terimakasih
*Pintarberasuransi.com*

Ada Garansinya ?

Itu pertanyaan yang sering kita tanyakan kalau kita beli barang-barang
elektronik atau barang lainnya yang nilainya sudah termasuk barang mahal.
Dan kadang kita mau menambah biaya untuk bisa mendapatkan, memperpanjang atau melakukan upgrade untuk Garansinya, supaya bila terjadi sesuatu pada barang yang kita beli, maka ada pihak lain yang menggantikan atau memperbaikinya tanpa ada lagi tambahan biaya.

Garansi yang pernah saya pertimbangkan untuk upgrade adalah saat membeli kamera yang sudah ada garansi 1 tahun, tetapi saya ditawarkan untuk paket Garansi 2 tahun atau 3 tahun. Supaya saat terjadi kerusakan, saya tidak perlu lagi bayar biaya servis dan lainnya.
Tetapi ternyata, saat terjadi kerusakan karena keteledoran saya, yaitu kamera jatuh ke air, saya tetap membayar optiknya yang rusak, walaupun
biaya servis gratis.

Garansi yang dibutuhkan oleh pembeli itu sebenarnya sama dengan Asuransi.
Sama – sama memberikan proteksi nilai dari barang kita, tanpa kita mengeluarkan uang senilai barang yang rusak, karena dengan membayar garansi, pastinya lebih murah daripada membayar biaya ganti barangnya.

Konsep Garansi , adalah sama dengan asuransi, yaitu membayar sejumlah uang dengan nilai terjangkau, untuk mendapatkan nilai manfaat/proteksi yang tak terjangkau, dalam bahasa awamnya, “Membayar uang kecil untuk mendapatkan Nilai Besar”.

Garansi memproteksi nilai barang yang dibeli, kalau Asuransi (jiwa) memproteksi nilai ekonomi manusia.
Mana yang lebih mahal , nilai barang yang dibeli atau nilai ekonomis manusia ?

Saat beli kamera, harganya sudah pasti, misalnya Rp 5 Juta, maka mau sampai kapanpun kamera itu harganya tetap Rp 5 Juta atau bahkan menurun. Maka harga beli atau upgrade Garansinya murah.

Seorang manusia produktif, makin dewasa dan makin profesional dalam bidang pekerjaannya, maka nilai ekonomisnya (penghasilan) makin tinggi, makanya Asuransi (jiwa) pun bukanlah suatu nilai yang murah, bila dibandingkan dengan Garansi Kamera.

Karena saat manusia hidup, nilai ekonomisnya sangat tinggi, misalnya seorang Ayah mempunyai penghasilan Rp 10 Juta/bulan, bila ia hidup terus, maka si Ayah dapat menghasilkan uang untuk keluarganya sebesar puluhan juta, ratusan juta bahkan miliaran rupiah.
Lalu bagaimana kalau si Ayah mendapat kerusakan, sehingga menyebabkan si Ayah sudah tidak bisa mempunyai nilai ekonomis lagi ? Siapa yang akan menggantikannya ke keluarganya untuk masa sekarang sampai ke masa yang akan datang ?
Tentunya Asuransi yang sudah dipersiapkan , bukan ?

Mari Berasuransi.

 

Hubungan Warisan, Pajak dan Asuransi

Setiap dari pemilik aset, biasanya memikirkan bagaimana asetnya bisa diturunkan ke Ahli Waris, bila suatu hari dirinya terjadi resiko meninggal.

Berbagai cara dipilih oleh para pemilik aset. Ada yang mewariskan properti, uang tunai, asuransi, dan aset-aset barang lainnya.

Bila seorang pemilik aset mewariskan properti, bagaimana perhitungannya terkait pajak ?

Bila saat kejadian resiko meninggal, ternyata properti masih atas nama pemilik aset yang lama, harap diingat bahwa pada saat ahli waris mau menjual diharuskan membayar BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) sebesar 5%.

Contoh :

Bpk A mempunyai aset tanah 1000 m di suatu kota. Setelah ia meninggal , maka ahli waris yang ingin menjual tanah tersebut harus membayar sebesar :

Harga tanah misalnya @Rp 30 Juta/m , maka harga tanah total 1000 * 20 Juta = Rp 20 Miliar

Maka BPHTB yang harus dibayar = 5% * 20M = Rp 1 M

Biaya BPHTB ini yang bisa disebut sebagai Resiko Susut , karena dari harga tanah Rp 20 Miliar , berkurang Rp 1 Miliar sebagai pajak / biaya.

Bila seseorang mewariskan saham di suatu perusahaan (emiten) senilai Rp 1 Miliar , bagaimana juga perhitungan pajak saat mau mewariskan kepada ke 2 anaknya ?

Karena Anak pertama sedang di luar negeri, Ia menyerahkannya kepada anak ke-2 untuk mengatur semua surat-suratnya. Suatu ketika , emiten (perusahaan) mau buyback (membeli kembali) saham perusahaan sebesar Rp 2 Miliar, maka dana diberikan kepada anak ke-2 sesuai dengan dokumen atas nama anak ke-2, yang setelahnya si Anak membayar PPH (Pajak Penghasilan). Pada saat mau memberikan bagian kepada anak pertama, maka kembali lagi dana tersebut dikenakan PPH atas nama anak pertama, sehingga dana berkurang dikarenakan 2x terkena pajak.

Bila seorang Pengusaha rumah duka, bagaimana cara mewariskan bisnisnya kepada ke-3 anaknya ? 

Anak pertama , sekolah di Amerika, begitu pulang tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. Anak kedua, sekolah di Amerika, tidak mau pulang. Tinggal harapan anak ketiga. Anak ke-3 mau pulang dan meneruskan usahanya, tetapi pada suatu ketika, si Anak merasa beda value. Kalau bisnis rumah duka, mendapat uang bila ada yang meninggal, sedangkan si Anak merasa, kalau orang meninggal seharusnya dibantu. Sehingga antara orang tua dan anak mempunyai value yang berbeda, si Anak akhirnya tidak mau meneruskan usaha rumah dukanya.

Bila memberikan warisan dalam bentuk polis asuransi jiwa kepada anak atau ahli waris, bagaimana perhitungan pajaknya ?

Bagaimana hubungannya antara warisan, pajak dan asuransi ?

Hubungan Warisan, Pajak dan Asuransi :

1. Nilai Klaim yang diterima atas asuransi adalah “Bebas Pajak”.
Menurut UU Perpajakan no. 36 tahun 2008 Pasal 4 ayat 3 mengatakan :
Yang dikecualikan dari objek pajak adalah:
e. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;

2. Benefeciary / ahli waris dari polis asuransi jiwa “Bebas Sengketa”.
Bila warisan, ahli waris masih bisa disengketa, atau dituntut hukum mutlak (hukum .Perdata). Kalau ahli waris polis asuransi jiwa tidak bisa disengketa / dituntut.

3. Nilai investasi yang ada di Polis Asuransi Jiwa “Bebas Pajak”.
Nilai investasi yang ada di dalam Produk unit link merupakan bagian dari produk asuransi, sehingga bukan merupakan objek pajak. Merujuk kepada :

• Surat dari Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Peraturan II
melalui suratnya nomor S-492/PJ.031/2009 tertanggal 18 Mei 2009 kepada Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), pada point 4.b (Lampiran II) dinyatakan bahwa produk asuransi unit link merupakan produk asuransi, sehingga atas biaya pengelolaan investasi yang merupakan bagian atau merupakan satu kesatuan di dalam produk asuransi unit link
dari Perusahaan Asuransi Jiwa tidak terhutang PPN,
• bahwa berdasarkan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (“Bapepam-LK”) Nomor KEP-104/BL/2006 tanggal 31 Oktober 2006 tentang Produk Unit Link, pada Lampiran Keputusan tersebut, yaitu Butir (1) dinyatakan bahwa Produk Unit Link adalah Produk Asuransi Jiwa yang memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) Nilai manfaat
yang dijanjikan ditentukan oleh kinerja subdana investasi yang dibentuk untuk unit link tersebut; (b) Nilai manfaat yang diperoleh dari subdana investasi dinyatakan dalam unit; dan (c) Mengandung pertanggungan risiko kematian alami,
• bahwa berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima
premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang
tidak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan,
• bahwa sebagai Produk Asuransi Jiwa, Produk Unit Link juga terikat dengan definisi Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tersebut, dengan memberikan “Polis Asuransi” kepada Pemegang Polis yang merupakan perjanjian yang menjadi dasar hukum
dalam hubungan hukum di antara Perusahaan Asuransi dengan Pemegang Polis, bahwa Polis Asuransi tersebut yang diberikan kepada dan dimiliki oleh Pemegang Polis, tidak dapat diperjualbelikan karena bukan merupakan Surat Berharga yang dapat diperjualbelikan selayaknya suatu produk investasi pasar modal sehingga dengan demikian,
berdasarkan uraian tersebut di atas, terbukti bahwa Produk Unit Link adalah merupakan Produk Asuransi Jiwa,
( sumber : Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia putusan.mahkamahagung.go.id Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put-53138/PP/M.IIB/16/2014)

Bila mempunyai aset/warisan berupa properti atau aset lainnya, berarti harus menunggu ada pembelinya untuk mendapatkan dananya, setelah ada dananya, maka penerima dana (ahli waris) akan membayar sejumlah pajak penghasilan.

Bila ada warisan yang bisa memberikan fasilitas “Bebas Pajak” dan likuid (terima dana) kepada ahli waris, maka asuransi bisa menjadi alternatif bagi orang tua / pemilik aset dalam merencanakan warisan  (legacy planning) dan pajak (tax planning).

Semoga menambah pengetahuan tentang warisan, pajak dan asuransi.