Pengalaman Menyedihkan dari Seorang Agen Asuransi

 

Banyak orang mengatakan profesi seorang Agen Asuransi adalah profesi yang sering ditolak atau dijauhi oleh teman-teman atau orang sekitarnya. Itu memang salah satu pengalaman menyedihkan. Tapi Saya mengalami hal yang lebih menyedihkan sekali.

 

Awal Desember 2015, klien saya pria berusia 46 tahun mengambil asuransi kesehatan rawat inap, tetapi kelas kamar 500, dengan alasan sudah punya dari asuransi lain. Padahal klien mempunyai bisnis perdagangan cukup besar.
Satu (1) bulan setelah polis terbit, klien terdeteksi mengidap penyakit diabetes, dan hanya melakukan rawat jalan untuk kontrol dokter.
Setelah polis berjalan 1 tahun, klien tidak lanjut bayar, padahal sudah diingatkan, akhirnya polis lapse.
Sampai akhirnya di bulan April 2017, klien mengatakan mau lanjutkan asuransi. Beruntungnya polis masih bisa dipulihkan otomatis dikarenakan belum ada histori klaim rawat inap, sehingga klien hanya membayar premi lanjutan, dan polis aktif kembali.
Bulan September 2017, klien menelpon karena tiba-tiba jari tangannya sakit, hanya karena menangkap bola. Klien pergi ke dokter dengan membawa formulir klaim kecelakaan, dan hasil diagnosa dokter adalah tulang dari jari-jari tangan kiri ada yang retak (dilihat dari hasil rontgen), dan biaya dokter dan pengobatan hampir Rp 3 juta.

Setelah dibantu untuk pengajuan klaim dan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, klien berniat upgrade kelas kamar kesehatannya.
Respon Saya saat itu adalah memberikan informasi kemungkinan terburuk bila di upgrade, mengingat klien sudah mengidap diabetes.
Saat yang sama pula, klien akhirnya juga mau membeli uang pertanggungan jiwa sebesar Rp 2M.

Mungkin karena klien sudah merasakan manfaat asuransi, makanya klien baru percaya sama asuransi. Karena dulunya hanya berpikir bahwa membeli asuransi, ‘yang penting ada’.

Setelah melewati masa pemeriksaan kesehatan akibat riwayat penyakitnya, maka keputusan dari perusahaan asuransi, adalah :
1. upgrade asuransi kesehatan rawat inap tidak dapat diupgrade, karena riwayat penyakit sudah ada. Tetapi klien masih bisa menggunakan manfaat kesehatan dengan kelas awal
2. asuransi jiwa UP 2M tidak dapat diterima , karena klien ternyata juga mengidap jantung koroner sejak Sept 2017, yang mengakibatkan risiko tinggi untuk klien tersebut.

Bagi seseorang dengan profesi agen asuransi seperti saya, pengalaman ini menyedihkan bukan karena kehilangan ‘case‘ atau komisi, tetapi adalah :
1. klien kehilangan kesempatan menyiapkan dana darurat untuk memproteksi kebutuhan keuangan keluarga dan bisnisnya. Terlebih lagi, ke-3 anaknya masih sekolah dan kuliah
2. kalau kita mengenal teman atau kenalan kita yang masih berusia muda dan produktif, mengidap penyakit yang beresiko tinggi, pastilah kita prihatin, apalagi orang tersebut kita kenal baik
3. seharusnya kita agak ‘memaksa’ dari awal begitu dia membeli polis asuransi kesehatan untuk membeli asuransi jiwa, apabila kita mau menolong keluarganya.

Kalau sudah ada histori ditolak untuk pengajuan asuransi dan mempunyai penyakit beresiko tinggi, akan sulit diterima di asuransi manapun.

Dari pengalaman ini, Saya menyadari benar, bahwa profesi ini bukanlah profesi main-main, jika sudah ‘nyemplung’, jangan ada kata keluar, tetapi malah harus terus menerus mendalami kebutuhan dan perencanaan keuangan terutama untuk persiapan dana darurat untuk orang-orang yang belum terproteksi.
Seseorang boleh dikatakan sangat hebat bila sudah mempunyai aset berlipat-lipat ganda, tetapi jika tidak mempunyai proteksi, maka aset itu akan habis dalam sekejap dan keluarga yang ditinggalkan akan menjadi beban orang lain, bila tidak direncanakan dengan benar.

Saya Bonie Corina, SFP Manulife Indonesia. Itu pengalaman saya, bagaimana pengalaman Anda ?

2 Replies to “Pengalaman Menyedihkan dari Seorang Agen Asuransi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *